HARGA MINYAK: Rusia Usul Pembatasan Suplai Dicabut, WTI Turun Tajam

Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) membukukan penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan pada akhir perdagangan Kamis (24/5/2018), setelah Rusia mengisyaratkan opsi penghapusan upaya pembatasan suplai yang telah mengikis kelebihan suplai global.
Renat Sofie Andriani | 25 Mei 2018 06:41 WIB
kilang minyak lepas pantai. - Bloomberg/Tim Rue

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah Amerika Serikat (AS) membukukan penurunan terbesar dalam lebih dari dua pekan pada akhir perdagangan Kamis (24/5/2018), setelah Rusia mengisyaratkan opsi penghapusan upaya pembatasan suplai yang telah mengikis kelebihan suplai global.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak Juli 2018 melorot 1,57% atau US$1,13 dan ditutup di level US$70,71 per barel di New York Mercantile Exchange, penurunan harian terbesar sejak 8 Mei 2018. Sementara pada perdagangan Jumat (25/5/2018), dibuka melemah 0,08% ke US$70,65 dan pada pk. 06.31 WIB jadi naik 0,04% ke US$70,74 per barel

Adapun harga minyak Brent untuk pengiriman Juli melorot US$1,01 atau 1,27% dan berakhir di US$78,79 per barel di ICE Futures Europe exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium US$8,08 terhadap WTI.

Dilansir dari Bloomberg, Rusia dan Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) akan membahas apakah merupakan langkah yang tepat untuk mengurangi upaya pemangkasan produksi,

Di St. Petersburg, Menteri Energi Rusia Alexander Novak menambahkan bahwa Rusia dan Arab Saudi setuju bahwa kondisi pasar akan menentukan keputusan apapun.

Rusia dan sejumlah produsen minyak sedang membicarakan kemungkinan berkurangnya pembatasan output pada saat pengebor minyak shale Amerika memompa minyak mentah mencapai rekornya.

Namun, ancaman ganda gangguan pasokan dari Iran dan Venezuela- yang jika digabung mencapai sekitar 14% produksi OPEC - dapat menahan penurunan harga yang tajam.

“Diskusi tentang OPEC yang kemungkinan meningkatkan produksi jelas meningkatkan kekhawatiran,” kata Phil Flynn, seorang analis di Price Futures Group di Chicago.

Di sisi lain, jumlah persediaan minyak mentah AS berekspansi sebesar 5,78 juta barel menjadi sekitar 438 juta barel pekan lalu, menurut data Energy Information Administration (EIA). Angka ini mengejutkan dibandingkan dengan penurunan sebesar 2 juta barel yang diprediksi dalam survei Bloomberg.

Namun, para pedagang dan analis mengharapkan penurunan stok minyak AS dalam beberapa pekan mendatang yang seharusnya mendukung harga. Penyedia data Genscape Inc dikabarkan melaporkan bahwa jumlah persediaan turun sekitar 475.000 barel antara 18 Mei dan 22 Mei di pusat pipa utama di Cushing, Oklahoma.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Harga Minyak

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top