Produksi Aluminium China Naik 1,1% Menjadi 2,77 Juta Ton

Produksi aluminium China tercatat naik pada April ke level tertinggi harian sejak Juni tahun lalu. Harga komoditas logam itu kembali naik dan mendorong perusahaan smelter untuk meningkatkan produksi setelah pembatasan produksi pada musim dingin lalu.
Mutiara Nabila | 15 Mei 2018 17:34 WIB
Pekerja melakukan pengecoran produk aluminium di pabrik milik Hyamn Group, di Cirebon, Jawa Barat, Rabu (25/4/2018). - JIBI/Endang Muchtar

Bisnis.com, JAKARTA – Produksi aluminium China tercatat naik pada April ke level tertinggi harian sejak Juni tahun lalu. Harga komoditas logam itu kembali naik dan mendorong perusahaan smelter untuk meningkatkan produksi setelah pembatasan produksi pada musim dingin lalu.

Data dari Biro Statistik Nasional China pada Selasa (15/5) menunjukkan bahwa output dari produsen aluminium nomor satu dunia itu naik 1,1% menjadi 2,77 juta ton pada April dibandingkan dengan hasil produksi tahun lalu.

Jumlah produksi tersebut setara dengan 92.300 ton per hari, jumlah tertinggi sejak Juni 2017 dan naik 89.500 ton dari Maret lalu, dikutip dari data Reuters, Selasa (15/5/2018).

Pada musim dingin lalu, akhir 2017 hingga awal 2018, perusahaan smelter yang tersebar di 28 kota di China diminta untuk mengurangi output hingga hampir 30% guna mengurangi polusi udara. Pembatasan produksi tersebut berakhir pada 15 Maret.

Beberapa smelter menunda pengurangan output itu karena pada saat itu harga aluminium sedang turun, sedangkan, biaya operasional tinggi dan pasar China sudah memiliki pasokan yang cukup.

Amerika Serikat tetap menjatuhkan sanksi pada produsen Rusia United Co. Rusal pada 6 April lalu. Sanksi itu menekan harga aluminium Shanghai hingga 4,8%. Sementara itu, harga aluminium di perdagangan London justru naik 12,5% karena kekhawatiran atas kekurangan pasokan.

Data dari China tersebut juga menunjukkan kapasitas baru terlihat dari aliran produksi dari sejumlah perusahaan smelter milik China yang sudah jauh melebihi jumlah produksi yang sebelumnya dipangkas pada musim dingin.

Harga arbitrase yang menguntungkan membuat ekspor aluminium China tetap naik meskipun AS telah memberlakukan pajak 10% untuk impor komoditas logam ringan itu pada Maret.

Pada kuartal pertama 2018, China telah memproduksi 10,89 juta ton aluminium, jumlah tersebut naik 0,2% dari periode yang sama pada tahun lalu.

Adapun, produksi untuk 10 jenis logam non-besi, termasuk tembaga, aluminium, timah seng, dan nikel, naik 3,1% pada April menjadi 4,54 juta ton dibandingkan dengan tahun lalu. Namun, jumlah tersebut masih lebih rendah dari Maret 2018.

Harga aluminium pada perdagangan London Metal Exchange, Selasa (15/5) pukul 14.42 mengalami kenaikan 31 poin atau 1,35% menjadi US$2.319 per ton. Secara year-to-date (ytd) mengalami kenaikan sebanyak 2,25%. Adapun, jumlah produksi aluminium China mengalami peningkatan sebanyak 2,3% selama tahun berjalan menjadi 17,84 juta ton.

Sumber : Reuters

Tag : aluminium
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top