Israel Serang Fasilitas Militer Iran di Suriah, Harga Minyak WTI Kuat di Level US$71

Harga minyak mentah AS mampu bertahan kuat di atas level US$71 per barel pada akhir perdagangan Kamis (10/5/2018).
Renat Sofie Andriani | 11 Mei 2018 05:58 WIB
Harga Minyak WTI - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak mentah AS mampu bertahan kuat di atas level US$71 per barel pada akhir perdagangan Kamis (10/5/2018).

Namun, reli ini sedikit terkikis dengan adanya kekhawatiran seputar sanksi Iran diimbangi kemampuan Arab Saudi dengan lebih banyak pasokan minyak mentah.

Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Juni 2018 naik 22 sen dan ditutup di level US$71,36 per barel di New York Mercantile Exchange. Total volume yang diperdagangkan pada Kamis (10/5) mencapai sekitar 3% di atas rata-rata 100 hari.

Adapun minyak Brent untuk pengiriman Juli 2018 naik 26 sen dan mengakhiri sesi perdagangan Kamis (10/5) di level US$77,47 di ICE Futures Europe Exchange yang berbasis di London. Minyak mentah acuan global ini diperdagangkan premium di US$6,16 terhadap WTI Juli.

Dilansir Bloomberg, bursa minyak di New York ditutup 0,3% lebih tinggi setelah diperdagangkan turun untuk sebagian besar sesi.

Peristiwa geopolitik telah mendorong relinya baru-baru ini, dengan Israel dikabarkan menyatakan telah menyerang sebagian besar fasilitas militer Iran di dalam wilayah Suriah. Kabar ini menambah ketegangan atas pecahnya kesepakatan nuklir Iran.

Di lain pihak, Arab Saudi menyatakan akan bekerja sama dengan OPEC dan sejumlah produsen non OPEC untuk mengurangi dampak kekurangan pasokan menyusul keputusan Presiden AS Donald Trump untuk mundur dari kesepakatan tersebut.

Menteri Energi dan Industri Arab Saudi Khalid Al-Falih dalam akun Twitter menyatakan Arab Saudi sedang berdiskusi dengan OPEC, Rusia, dan AS untuk memastikan pasar minyak yang stabil menyusul penarikan AS keluar dari kesepakatan nuklir Iran.

“Kekhawatiran seputar peristiwa yang berlangsung di Israel dan Suriah, dengan Iran, memberi sedikit dorongan di pasar, tetapi kita perlu melihat eskalasi lebih lanjut untuk benar-benar mendorongnya,” ujar Gene McGillian, seorang manajer riset pasar di Tradition Energy di Stamford, Connecticut, seperti dikutip Bloomberg.

Minyak mentah diperdagangkan pada level tertingginya sejak 2014 setelah AS menyatakan kepada pembeli minyak mentah untuk membatasi pembelian dari Iran. Pada saat yang sama, stok minyak mentah AS menyusut.

Fitch melihat langkah AS terkait Iran semakin meningkatkan risiko di Timur Tengah. UBS Group AG melihat minyak mentah Brent akan diperdagangkan di US$80 per barel dalam enam bulan, sedangkan Bank of America Merrill Lynch memprediksi minyak dapat reli ke level US$100 tahun depan.

Tag : Harga Minyak
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top