AS Beri Harapan Bagi Sektor Aluminium, Pasar Logam Bergeliat

Setelah dua minggu berturut-turut alami ketegangan akibat sanksi Amerika Serikat terhadap United Co. Rusal, pasar logam kembali harus bersiap untuk kekacauan selanjutnya: Sejumlah pedagang yakin bahwa Rusal akan segera menutup pabriknya yang berada di Swedia hingga Jamaika.
Mutiara Nabila | 24 April 2018 13:26 WIB
Sejumlah karyawan PT Bursa Berjangka Jakarta memantau transaksi perdagangan komoditas di Galeri JFX Jakarta. - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah dua minggu berturut-turut alami ketegangan akibat sanksi Amerika Serikat terhadap United Co. Rusal, pasar logam kembali harus bersiap untuk kekacauan selanjutnya: Sejumlah pedagang yakin bahwa Rusal akan segera menutup pabriknya yang berada di Swedia hingga Jamaika.

Pada Senin (23/4/2018), Departemen Keuangan AS meyakinkan bahwa mereka tidak akan mendorong keruntuhan perusahaan tersebut.

“Pemerintah AS tidak menargetkan mereka yang sudah bekerja keras dan memiliki ketergantungan dengan pasokan dari Rusal,” ujar Sekretaris Depkeu AS Steven Mnuchin, dikutip dari Bloomberg Senin (24/4/2018).

Treasury AS melunakkan posisinya dalam tiga cara. Mnuchin mengatakan sedang mempertimbangkan untuk menarik sanksi kepada perusahaan tersebut dan memperpanjang masa transaksi perusahaan yang bergantung dengan Rusal selama hampir 5 bulan, dan dijelaskan apa saja yang boleh di lakukan selama periode tersebut.

Saham Rusal di Hong Kong yang merosot ke level terendah pekan lalu, mengalami lonjakan 37% pada Selasa (24/4/2018), peningkatan terbesar yang pernah dialami, setelah sebelumnya alami lonjakan 18% di Moskow.

Sementara itu, harga aluminium menuju arah yang berbeda, turun 0,9% pada perdagangan di London dan menambah penurunan pada Senin sebanyak 7,1%, kemerosotan terbesar sejak 2010.

Kecepatan reaksi pasar menunjukkan betapa terguncangnya pasar aluminium. Sebagai pemasok logam terbesar kedua setelah China, Rusal menemukan mereka tidak lagi mendapat akses dari pasar internasional dan dampaknya telah menurun ke sejumlah perindustrian.

Pedagang tidak lagi membeli logam dari Rusal, sementara itu pemilik kapal menolak membawa produk dan hasil tambang sehingga tidak dapat memasok industrinya dengan material mentah.

“Pasar saat ini menganggap ini sebagai pencerahan dari masalah Rusal,” ujar Oliver Nugent, analis logam di bank Belanda ING Groep NV.

Perubahan terakhir memang sudah diperkirakan sebelumnya, tetapi datang lebih cepat dari perkiraan, berdasarkan laporan Goldman Sachs Group Inc. merestruktur aset Rusal adalah hal yang paling mungkin dilakukan. Sementara itu, bank tetap menahan harga agar tetap dalam kisaran US$2.500 per metrik ton.

Belum jelas apakan langkah yang diambil Depkeu AS pada Senin akan secara otomatis memperbolehkan perusahaan internasional untuk melanjutkan kesepakatannya kembali dengan Rusal.

Pertambangan ternama Rio Tinto Group dan Glencore Plc. telah mendeklarasikan force  majeur dari sejumlah kontrak, sementara itu beberapa pedagang, bank, dan perusahaan pengiriman telah dibekukan untuk bertransaksi dengan perusahaan asal Rusia tersebut.

Namun, sejumlah pihak yang telah memiliki kontrak jangka panjang dapat melanjutkan perdagangan dengan Rusal di bawah kontrak tersebut antara saat ini dan 23 Oktober mendatang.

“Segala hal yang berhubungan dengan transaksi Rusal dengan perusahaan besar sudah dihentikan,” kata Maximillian Hess, analis risiko politik senior di AKE International.

“Perpanjangan ini bertahan hingga Oktober, akan memungkinkan pemenuhan pasokan untuk sejumlah kontrak,” lanjut Hess.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
logam, aluminium

Sumber : Bloomberg
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top