Inilah Saham Perkebunan Pilihan Analis

Kendati saham sektor kebun mendapat rekomendasi netral, masih ada sejumlah saham yang dapat diperhatikan investor.
Hafiyyan | 19 April 2018 16:36 WIB
Ilustrasi. - JIBI

Bisnis.com, JAKARTAKendati saham sektor kebun mendapat rekomendasi netral, masih ada sejumlah saham yang dapat diperhatikan investor.

Analis PT Panin Sekuritas Tbk. (PANS) Cheria Widjaja menyampaikan, pihaknya merekomendasikan netral terhadap sektor perkebunan, karena rata-rata harga CPO pada 2018 diperkirakan menurun menjadi 2.600 ringgit per ton. Pada 2017, rerata harga CPO mencapai 2.787 ringgit per ton.

Pada penutupan perdagangan Selasa (17/4/2018), harga CPO kontrak teraktif Juli 2018 naik 39 poin atau 1,63% menjadi 2.408 ringgit per ton. Harga merosot 2,13% secara year to date (YTD).

Dalam jangka pendek, saham emiten kebun mendapat sentimen positif dari penurunan stok di Malaysia 6,2% month-on-month (mom) pada Maret 2018 ke level 2,32 juta ton. Di samping itu, eskpor CPO naik 19,2% mom menuju 1,57 juta ton.

Saham emiten kebun pilihan Panin Sekuritas ialah AALI dan LSIP. Alasannya, AALI memiliki imbal hasil (yield) Tandan Buah Segar atau TBS yang tinggi.

"Adapun, LSIP memiliki OER [Oil Extration Rate] tertinggi di antara perusahaan kebun lain yang kami pantau," paparnya dalam riset, dikutip Selasa (17/4/2018).

Dalam riset berbeda, Analis PT DBS Vickers Sekuritas Indonesia William Simadiputra menuturkan, rerata harga CPO pada 2018 diperkirakan mencapai 2.620 ringgit per ton. Untuk jangka pendek, harga diprediksi meningkat menjelang pertumbuhan permintaan jelang Ramadan.

"Volume ekspor diperkirakan naik pada April-Mei 2018," ujarnya.

Saham perkebunan pilihan DBS Vickers Sekuritas ialah AALI dan LSIP. Masing-masing saham memiliki target harga Rp17.700 dan Rp1.780.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengatakan, saham sektor CPO minim katalis positif sehingga mendapat rekomendasi netral. Kendati volume produksi dan penjualan emiten diperkirakan meningkat pada 2018, harga komoditas cenderung tertekan.

"Permintaan memang masih banyak, terutama untuk minyak goreng karena lebih murah [dibandingkan minyak nabati lainnya]. Tapi belum ada katalis baru," tuturnya.

Menurutnya, jika harga minyak Brent bisa menembus US$80 per barel, permintaan CPO untuk biodiesel bisa meningkat sigifikan. Sentimen ini dapat menjadi katalis baru yang dapat mendongkrak harga CPO.

Saham perkebunan pilihan Mirae ialah SSMS dengan target harga Rp2.000.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
emiten perkebunan, emiten sawit

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top