Pefindo Naikkan Outlook Peringkat APLN Jadi Stabil

PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi prospek PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) dari negatif menjadi stabil, sembari menetapkan kembali peringkat idA- bagi perseroan dan surat utangnya.
Emanuel B. Caesario | 13 April 2018 14:55 WIB
Properti di Jakarta - Reuters/Darren Whiteside

Bisnis.com, JAKARTA — PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) merevisi prospek PT Agung Podomoro Land Tbk. (APLN) dari negatif menjadi stabil, sembari menetapkan kembali peringkat idA- bagi perseroan dan surat utangnya.

Pemeringkatan dan perubahan outlook ini berlaku untuk periode 1 tahun, sejak 10 April 2018 hingga 1 April 2019. Surat utang yang turut diperingkat yakni Obligasi I/2013 sebesar Rp1,2 triliun, yang akan jatuh tempo pada 27 Juni 2018.

APLN berencana untuk membayar obligasi jatuh tempo tersebut menggunakan kombinasi kas internal dan pendanaan eksternal. Per 31 Desember 2017, APLN memiliki saldo kas sebesar Rp2,3 triliun serta fasilitas kredit yang belum terpakai yang cukup besar.

Analis Pefindo Yogie Perdana mengatakan pihaknya merevisi prospek atas peringkat perusahaan menjadi stabil untuk mencerminkan perkembangan terakhir dari proyek reklamasi Pulau G yang berlokasi di pantai utara Jakarta. 

Pefindo menilai perkembangannya cukup positif setelah sebelumnya Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan mencabut sanksi administratif berupa penghentian sementara pekerjaan reklamasi pada 2017 dikarenakan APLN telah mampu memenuhi semua persyaratan administrasi.

Pada Mei 2016, kementerian terkait menangguhkan pekerjaan reklamasi karena terdapat masalah administratif. 

Pefindo melihat pencabutan tersebut, sampai batas tertentu, dapat meringankan risiko penghapusbukuan yang timbul akibat biaya yang telah dikeluarkan oleh perusahaan terkait proyek reklamasi, yakni sebesar Rp 3,4 triliun, serta pengembalian uang tunai yang telah diterima dari presales, di mana per 31 Desember 2017 sudah mencapai Rp1,8 triliun.

“Pada tahapan ini, kami merasa cukup puas dengan perkembangan terakhir menyangkut proyek reklamasi perusahaan. Namun, sekali lagi, kami juga sadar bahwa proyek tersebut membawa beberapa karakter spekulatif akibat paparannya terhadap kondisi politik, lingkungan, dan sosial, yang dapat berimplikasi pada profil kredit perusahaan,” tulisnya dalam laporan pemeringkatan seperti dikutip Bisnis, Jumat (13/4/2018).

Oleh karena itu, Pefindo akan terus memantau tahapan perkembangan proyek reklamasi perusahaan dan dampaknya terhadap peringkat.

Peringkat di atas mencerminkan posisi bisnis APLN yang kuat di industri properti, kualitas aset yang baik dan pendapatan berulang yang terus bertumbuh yang dapat memberikan ketahanan finansial di saat kondisi pasar properti yang sulit.

Sementara itu, faktor-faktor yang membatasi peringkat adalah leverage keuangan yang cukup tinggi yang menyebabkan proteksi arus kas perusahaan menjadi lemah, risiko eksekusi terkait dengan proyek reklamasi, dan karakteristik industri properti yang sensitif terhadap perubahan keadaan makro ekonomimi.

Pefindo dapat menaikkan peringkat jika APLN mampu meningkatkan profil kredit, seperti yang ditunjukan oleh tingkat leverage keuangan yang rendah dan proteksi arus kas yang kuat, secara konsisten, yang berasal dari capaian presales yang kuat dari penjualan properti, serta peningkatan pendapatan berulanp dari properti investasi dan aset hotel.

“Di sisi lain, kami dapat menurunkan peringkat jika utang APLN lebih besar dari yang diproyeksikan tanpa dikompensasi dengan pendapatan dan EBITDA yang lebih tinggi sehingga mengakibatkan tingkat leverage keuangan menjadi lebih tinggi serta proteksi arus kas yang lebih lemah,” tambah Yogie.

Hal itu termasuk skenario di mana biaya tambahan akibat keterlambatan pengerjaan dan penyelesaian proyek reklamasi tidak dapat diteruskan ke harga jual yang lebih tinggi ke konsumen.

APLN, bagian dari Agung Podomoro Group, adalah pengembang yang menjadi pemimpin di segmen mixed use dan/atau high-rise dengan proyek-proyek yang sebagian besar terletak di wilayah Jakarta.
APLN juga memiliki proyek di luar Jakarta seperti di Karawang, Bogor, dan Bandung maupun di luar Jawa seperti di Batam, Balikpapan, Medan, dan Makassar.

Per Desember 2017, pemegang saham perusahaan adalah PT Indofica (75,99%), Trihatma Kusuma Haliman (3,21%), Dewan Direksi dan Komisaris Perusahaan (0,04%), dan publik (20,76%).

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
agung podomoro

Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top