Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

STRATEGI KORPORASI: Ini Alasan Emiten Peritel Perlu Lakukan Efisiensi Tahun Ini

Sepanjang 2017, kinerja emiten peritel yang telah merilis laporan keuangan berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan yang positif hingga dua digit. Akan tetapi, laba yang dicetak malah menurun. Efisiensi perlu dilakukan untuk membukukan cuan positif pada tahun ini.
Novita Sari Simamora
Novita Sari Simamora - Bisnis.com 05 April 2018  |  08:45 WIB
STRATEGI KORPORASI: Ini Alasan Emiten Peritel Perlu Lakukan Efisiensi Tahun Ini
Pengunjung di gerai Matahari Department Store Pasar Raya, Jakarta, Kamis (21/9). - JIBI/Felix Jody Kinarwan
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Sepanjang 2017, kinerja emiten peritel yang telah merilis laporan keuangan berhasil membukukan pertumbuhan pendapatan yang positif hingga dua digit. Akan tetapi, laba yang dicetak malah menurun. Efisiensi perlu dilakukan untuk membukukan cuan positif pada tahun ini.

Berdasarkan kompilasi Bisnis.com, dari 21 peritel yang telah menyampaikan laporan keuangan 2017, diperoleh total pendapatan mencapai Rp209,67 triliun, naik 13,52% sepanjang tahun lalu dibandingkan dengan 2016, senilai Rp184,69 triliun.

Namun, dari sisi total laba yang dibukukan pada 2017, mencapai Rp3,6 triliun, turun 32,2% dari posisi Rp5,32 triliun pada 2016. Penurunan paling dalam terjadi pada peritel supermarket.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama mengatakan, pada 2017, terjadi penurunan daya beli masyarakat. Penurunan daya beli itu berdampak pada kinerja emiten-emiten peritel pada tahun lalu. Menurutnya, kinerja peritel pada tahun lalu yang menurun menjadi suatu hal yang wajar karena kondisi pertumbuhan ekonomi yang belum pulih.

Penurunan yang cukup dalam dialami oleh peritel supermarket seperti PT Hero Supermarket Tbk. (HERO), PT Matahari Department Store Tbk. (LPPF) dan PT Matahari Putra Prima Tbk. (MPPA). Nafan mengatakan, faktor lain yang menekan kinerja emiten supermarket adalah maraknya gerai-gerai minimarket.

"Kalau dari pendapatan ada peningkatan, tetapi yang perlu diperhatikan adalan tekanan terhadap beban keuangan dan belum maksimalnya efisiensi yang dilakukan emiten peritel," ungkapnya saat dihubungi Bisnis.com, Rabu (4/4/2018).

Emiten peritel berpotensi tumbuh lebih baik pada tahun ini, jika daya beli, pertumbuhan ekonomi dan efisiensi, dilakukan dengan baik pada tahun ini. Dia mengungkapkan, penaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bisa menggerus kinerja pada emiten peritel pada tahun ini.

Namun, ada momentum yang tidak yang mendukung kinerja peritel seperti Asian Games, pertemuan IMF, Lebaran dan pemilihan kepala daerah serentak.

Di sisi lain, Nafan memproyeksikan peritel telekomunikasi dan start up berpotensi mencatatkan peningkatan yang lebih baik pada tahun ini, mengingat kebutuhan akan paket data yang kian positif.

Analis Mirae Asset Sekuritas Christine Natasya mengatakan, kinerja emiten peritel telekomunikasi seperti PT Erajaya Swasembada Tbk.(ERAA) berhasil naik meningkat karena didukung oleh kebijakan pemerintah. Pada 2017, pendapatan ERAA berhasil tumbuh 17,92% year on year menjadi Rp24,22 triliun dan laba naik 28,7% year on year menjadi Rp339,45 miliar.

"Kinerja ERAA membaik karena blackmarket berkurang, karena pemerintah untuk pasokan impor yang sangat ketat," ungkapnya saat dihubungi Bisnis.

Terkait peritel minimarket PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk. (AMRT) yang berhasil mencatatkan pertumbuhan penjualan hingga 9,55%, dengan laba anjlok hingga 50% menjadi Rp300,27 miliar pada akhir 2017, dari posisi Rp601,58 miliar pada 2016. Christine menuturkan, biaya operasional AMRT cenderung meningkat.

Christine memproyeksikan, pertumbuhan pendapatan peritel minimarket pada tahun ini berpotensi berada pada kisaran 7% hingga 8%. Dia memprakirakan, bisnis minimarket pada tahun ini belum akan sebaik tahun lalu. Alasannya, pada tahun lalu, minimarket telah sangat ekspansi.

Sementara itu, survei penjualan eceran Bank Indonesia Januari 2018 mengindikasikan akan adanya penurunan tekanan kenaikan harga pada tingkat pedagangan eceran hingga April 2018. Selain itu, tekanan kenaikan harga yang melemah juga diprediksikan akan terjadi pada Juli 2018, terindikasi dari nilai ekspektasi harga umum hingga Juni 2018, sebesar 161,5 lebih rendah dari bulan sebelumnya.

Adapun PT Mitra Adiperkasa Tbk. berencana untuk meningkatkan efisiensi dan didukung kuatnya kondisi makro ekonomi pada 2018.

Fetty Kwartati, Head of Corporate Communication Mitra Adiperkasa mengatakan, telah melakukan penutupan gerai yang tidak memberikan keuntungan, memberikan dampak baik pada kinerja MAPI.

Penutupan gerai itu, kata Fetty, sebagai bagian dari restrukturisasi, perseroan siap melanjutkan langkah rasionalisasi merek, yang berdampak pada penutupan sejumlah gerai yang tidak memberikan keuntungan, serta penyisihan penurunan nilai persediaan dan kerugian penghapusan atau penjualan aset tetap.

Untuk memperbaiki kinerja 2018, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Matahari Putra Prima Danny Kojongian akan memperkuat bisnis food retail di Indonesia. Selain itu, MPPA juga berencana untuk mentransformasi bisnis pada tahun ini.

Danny mengungkapkan, perseroan akan melakukan efisiensi biaya opperasional guna mempertahankan tingkat keuntungan di dalam kondisi margin produk perdagangan yang lebih rendah. Selain itu, MPPA juga akan memperkuat daya saing.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ritel
Editor : Riendy Astria
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top