Ini Strategi Kalbe Farma (KLBF) Jaga Margin Laba

Pertumbuhan kinerja keuangan PT Kalbe Farma Tbk. periode 2017 tertahan pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi pada tahun lalu.
M. Nurhadi Pratomo | 31 Maret 2018 23:03 WIB

Bisnis.com, JAKARTA— Pertumbuhan kinerja keuangan PT Kalbe Farma Tbk. periode 2017 tertahan pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi pada tahun lalu.

Berdasarkan laporan keuangan 2017 yang dipublikasikan, Kamis (29/3), Kalbe Farma mengantongi pendapatan Rp20,18 triliun. Pencapaian tersebut tumbuh tipis 4,18% dibandingkan dengan 2016 senilai Rp19,37 triliun.

Beban pokok penjualan emiten berkode saham KLBF itu naik dari Rp9,88 triliun pada 2016 menjadi Rp10,36 triliun pada 2017. Perseroan mengantongi laba kotor Rp9,81 triliun per 31 Desember 2017.

Beban penelitian dan pengembangan KLBF naik dari periode sebelumnya Rp191,71 miliar menjadi Rp239,05 miliar pada tahun lalu. Selain itu, bagian atas rugi entitas asosiasi naik tajam dari Rp4,10 miliar pada 2016 menjadi Rp16,30 miliar pada 2017.

Dengan demikian, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk KLBF naik 4,80% secara year on year. Perseroan mengantongi laba bersih Rp2,40 triliun pada tahun lalu.

Akan tetapi, kinerja korporasi farmasi swasta itu berada di bawah perkiraan para analis. Menurut data Bloomberg, laba bersih dan pendapatan perseroan diperkirakan masing-masing Rp2,43 triliun dan Rp20,61 triliun.

Presiden Direktur Kalbe Farma Vidjongtius menjelaskan bahwa penyebab melambatnya pertumbuhan tahun lalu akibat melemahnya daya beli konsumen. Akibatnya, pencapaian pada 2017 berada di bawah ekspektasi perseroan.

Vidjongtius mengatakan perseroan telah melakukan sejumlah inisiatif untuk menciptakan permintaan secara nasional dan regional Asean. Pihaknya menyatakan akan meningkatkan penetrasi distribusi.

“[Strategi kunci tahun ini] dengan memulai pemanfaatan e-commerce digital,” ujarnya kepada Bisnis.com, Kamis (29/3/2018).

Direktur Keuangan dan Sekretaris Perusahaan Kalbe Farma Bernardus Karmin Winata optimistis pemuliham kondisi ekonomi dan daya beli tahun ini akan mendorong kinerja KLBF. Manajemen menargetkan pertumbuhan penjualan bersih di kisaran 7%-9% pada 2018.

“Target margin laba operasional ditetapkan stabil di tingkat 14,5%-15,5%,” paparnya.

KLBF menganggarkan belanja modal mencapai Rp1,5 triliun untuk tahun ini. Dana tersebut akan digunakan untuk perluasan kapasitas produksi dan distribusi.

Di sisi lain, perseroan menargetkan peningkatkan rasio pembagian dividen di kisaran 45%-55%. Dengan catatan, tetap memerhatikan ketersediaan dana dan kebutuhan pendanaan internal.

Berdasarkan data Bloomberg, harga saham KLBF menguat 60 poin atau 4,17% pada penutupan perdagangan, Kamis (29/3/2018). Bergerak di zona hijau sepanjang sesi terakhir perdagangan Maret 2018, harga saham terkerek ke level Rp1.500 per lembar.

Sementara itu, Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama merekomendasikan investor wait and see untuk saham KLBF. Secara teknikal, masih terlihat adanya downtrend untuk pegerakan saham.

Nafan mengungkapkan level support kuat harga saham KLBF berada di level Rp1.375 per lembar. Target harga saham dalam jangka panjang diproyeksi menembus Rp1.585 per lembar.

Tag : kalbe farma
Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top