Divestasi Saham Antam (ANTM) Dilakukan untuk Geber Bisnis Inti

Emiten tambang mineral PT Antam Tbk., (ANTM) mengungkapkan alasan perusahaan melakukan penjualan 20% kepemilikannya di dalam PT Dairi Prima Mineral (DPM) ialah agar manajemen berfokus ke bisnis inti.
Hafiyyan | 01 Maret 2018 23:55 WIB
Model memerlihatkan aneka ukuran emas yang dijual di gerai layanan penjualan emas Aneka Tambang (Antam), di Kantor Pos Malang, Jawa Timur, Senin (6/2). - Antara/Ari Bowo Sucipto

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten tambang mineral PT Antam Tbk., (ANTM) mengungkapkan alasan perusahaan melakukan penjualan 20% kepemilikannya di dalam PT Dairi Prima Mineral (DPM) ialah agar manajemen berfokus ke bisnis inti.

Direktur Keuangan ANTM Dimas Wikan Pramudhito menyampaikan, pada akhir 2017 perusahaan menjual 20% kepemilikannya di DPM senilai US$57,31 juta. Aksi korporasi merupakan strategi agar ANTM fokus kepada pengembangan bisnis inti dan memperkuat keuangan perusahaan.

“Perusahaan melakukan divestasi pada entitas pertambangan patungan yang bergerak di komoditas non-core untuk memberikan imbal hasil positif bagi pemegang saham dan pemangku kepentingan,” ujarnya dalam siaran pers, Kamis (1/3/2018).

DPM sendiri merupakan perusahaan tambang dengan komoditas inti berupa seng dan timbal. Komoditas logam itu berbeda dengan jenis mineral yang menjadi fokus ANTM, seperti emas, nikel, dan bauksit.

Menurut Dimas, saat ini ANTM tengah mengerjakan Proyek Pembangunan Pabrik Feronikel Haltim (P3FH) dengan kapasitas 13.500 ton nikel dalam feronikel (TNi). Fase commissioning (uji operasional) diperkirakan dilaksanakan pada awal 2019.

Perusahaan juga fokus mengembangkan pabrik Selter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah, Kalimantan Barat, bersama dengan induk usaha, yakni PT Inalum (Persero).

Sebelumnya. Sekretaris Perusahan Antam Aprilandi Hidayat mengatakan, ANTM juga telah memperhitungkan mundur dari Meratus Jaya Iron & Steel (MJIS). MIJS merupakan proyek patungan antara Krakatau Steel dengan kepemilikan saham 66% dan Antam 34% yang memproduksi iron sponge.

Menurutnya, Antam akan berfokus pada penguatan bisnis inti dan investasi terkait dengan perluasan kapasitas penghiliran. Komoditas yang menjadi bisnis inti perseroan adalah nikel, emas, dan bauksit.

Sementara itu, Investor Relations BRMS Herwin Hidayat sebelumnya menyampaikan, perusahaan memang sudah melakukan perjanjian pembelian 20% kepemilikannya di DPM dari Antam. Perjanjian ini merupakan bagian dari serangkaian transaksi divestasi DPM sebesar 51%.

“Perjanjian ini merupakan bagian dari serangkaian transaksi yang terkait dengan Conditional Share Purchase Agreement dengan China Nonferrous Metal Industry’s Foreign Engineering & Construction Co. Ltd. (NFC) untuk penjualan 51% kepemilikan di DPM senilai $198 juta,” paparnya, Kamis (1/3/2018).

Perjanjian antara BRMS dan NFC itu sudah ditandatangani pada 16 Juni 2017. Namun, proses divestasi DPM ke NFC memang menunggu tanggapan dari sejumlah pihak terkait seperti Antam, Kementerian ESDM, dan BKPM.

Berdasarkan data dari situs PT Dairi Prima Mineral, perusahaan mengerjakan proyek tambang seng di Kabupaten Dairi, Sumatera Utara. Proyek tersebut dimiliki oleh PT Bumi Resouces Minerals Tbk. dengan porsi sebesar 80% dan PT Aneka Tambang Tbk. sebesar 20%. Dengan rampungnya transaksi pada akhir 2017itu, maka PT Dairi Prima Mineral 100% dimiliki oleh BRMS.

Pada penutupan perdagangan Kamis (1/3), saham ANTM ditutup turun 15 poin atau 1,57% menjadi Rp940. Dalam waktu yang sama, saham BRMS terkoreksi 1 poin atau 1,03% menuju Rp96.

Tag : antam, antam
Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top