Rekomendasi Obligasi: Tenor Panjang Masih Layak Beli

Analis masih merekomendasikan investor lokal untuk mulai mengoleksi instrumen surat utang tenor panjang memanfaatkan momentum koreksi yang terjadi, menimbang peluang pembalikan arah cukup terbuka meski ada perbaikan data ekonomi Amerika Serikat.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 28 Februari 2018  |  10:10 WIB

Bisnis.com, JAKARTA—Analis masih merekomendasikan investor lokal untuk mulai mengoleksi instrumen surat utang tenor panjang memanfaatkan momentum koreksi yang terjadi, menimbang peluang pembalikan arah cukup terbuka meski ada perbaikan data ekonomi Amerika Serikat.

Berdasarkan data Indonesia Bond Pricing Agency (IBPA), hingga akhir pekan lalu yield surat utang negara tenor pendek masih mencatatkan penurunan, atau meskipun naik tetapi besarannya sangat terbatas. Artinya, perubahan harga di tenor pendek relatif sangat minim.

Tenor 1 tahun dan 2 tahun masih mencatatkan penurunan yield, sementara yield tenor 3 tahun dan 4 tahun meningkat kurang dari 10 bps. Sementara itu, yield tenor 5 tahun meningkat 15,05 bps.

Namun, yield tenor-tenor yang lebih panjang menunjukkan penurunan yang signifikan sepanjang tahun berjalan. Tenor 6 tahun hingga 10 tahun mencatatkan peningkatan yield paling tajam seiring makin panjangnya tenor, tetapi di atas 10 tahun peningkatan yield justru semakin rendah. (lihat tabel).

Anil Kumar, Fixed Income Analyst Ashmore Asset Management Indonesia, mengatakan bahwa mayoritas investor asing berada di tenor-tenor panjang. Hal ini menyebabkan obligasi tenor panjang sangat sensitif terhadap sentimen global, di samping tenor panjang memang cenderung lebih beresiko di saat pasar tidak stabil.

Namun, menurutnya koreksi yang terjadi di tenor panjang selama ini justru menjadi kesempatan bagi investor lokal untuk mengganti posisi yang ditinggalkan investor asing tersebut. Dirinya menilai langkah tersebut cukup masuk akal untuk diambil menimbang faktor yang menyebabkan koreksi di tenor panjang lebih banyak merupakan faktor eksternal.

“Keputusannya tinggal apakah investor lokal berpikir bahwa dampak eksternal ini masih ada atau tidak. Kalau menurut penilaiannya masih ada, silahkan hold, tetapi kalau sudah tidak signifikan ini jadi saat yang tepat untuk masuk di tenor panjang,” katanya ketika dihubungi Bisnis.com, Senin (26/2/2018).

Anil mengatakan, saat ini masih ada peluang cukup besar untuk menikmati capital gain di tenor panjang sebab selisih yieldnya masih cukup lebar. Bila faktor ekternal mereda, harga seri-seri tenor panjanglah yang akan meningkat lebih dahulu, sehingga sangat penting mengambil posisi sebelumnya.

Di pasar global, investor akan sangat mengawasi perkembangan data-data perekonomian Amerika Serikat. Anil mengatakan, perbaikan data-data ekonomi Amerika Serikat kemungkinan masih akan berlanjut dalam 3-9 bulan ke depan, tetapi tidak ada jaminan perbaikan tersebut akan berkelanjutan.

Bila perbaikan data ekonomi segera diikuti oleh terkereknya imbal hasil US Treasury, hal ini justru akan menjadi boomerang bagi perekonomian Amerika Serikat. Menurutnya, 3,25% merupakan ambang batas psikologis bagi yield US Treasury tenor 10 tahun.

“Kalau di atas itu, kita harus lihat apakah kenaikan itu karena data ekonomi ataukan resiko lain karena kita harus tahu bahwa inflasi Amerika memang naik, tetapi tidak secepat itu. Bisa jadi peningkatan ini karena peningkatan penawaran obligasi mereka,” katanya.

Per Senin (26/2/2018) petang WIB, imbal hasil US Treasury sudah di level 2,866%, sempat turun setelah sebelumnya di atas 2,90% mendekati 3,00%. Anil menilai, tinggal tunggu waktu bagi yield tenor panjang Indonesia untuk turun bila kenaikan imbal hasil US Treasury tidak disertai oleh data inflasi yang baik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Obligasi

Editor : Ana Noviani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top