SUKUK RITEL 2018: Kupon Dipatok 5,9%, Minat Investor Bakal Rendah?

Penetapan kupon surat berharga syariah negara untuk investor ritel atau sukuk ritel untuk tahun emisi 2018 sebesar 5,9% akan menyebabkan minat investor ritel semakin lemah.
Emanuel B. Caesario | 23 Februari 2018 08:06 WIB

Bisnis.com, JAKARTA — Penetapan kupon surat berharga syariah negara untuk investor ritel atau sukuk ritel untuk tahun emisi 2018 sebesar 5,9% akan menyebabkan minat investor ritel semakin lemah.

Sumber Bisnis yang tidak ingin disebutkan namanya mengatakan bahwa pemerintah menetapkan kupon sukuk ritel 2018 sebesar 5,9% atau sama dengan yield surat utang negara (SUN) tenor 3 tahun pada penutupan perdagangan kemarin.

Ramdhan Ario Maruto, Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Indonesia, mengatakan bahwa tahun lalu kupon instrumen surat berharga negara untuk investor ritel, baik sukuk ritel maupun obligasi ritel Indonesia (ORI) diterbitkan pemerintah dengan kupon yang relatif rendah.

Hal tersebut menyebabkan permintaan investor menjadi sangat terbatas. Sukuk Ritel 2017 atau SR-009 hanya mendulang permintaan Rp14,03 triliun atau 70% dari target indikatif Rp20 triliun lantaran kuponnya yang rendah, yakni 6,9%, turun jauh dibandingkan dengan kupon seri sebelumnya 8,3%.

ORI 2017 yakni seri ORI014 diterbitkan dengan kupon 5,85% per tahun, sangat mepet dengan tingkat bunga LPS serta yield seri SUN yang menjadi acuannya. Permintaan investor atas instrumen ini hanya mencapai Rp8,98 triliun, terendah dalam 7 tahun terakhir.

Adapun, berdasarkan data Bloomberg, yield SUN tenor 3 tahun saat ini berada pada level 5,91%, sedangkan LPS rate 5,75%. Penawaran kupon sukuk ritel yang hanya memberi tingkat premium yang tipis dibandingkan SUN acuan tersebut kemungkinan akan sepi peminat.

“Di satu sisi mungkin pemerintah anggap pasar sudah cukup terbentuk, tinggal pengembangan saja sehingga tidak lagi memberi kupon premium yang lebih tinggi terhadap SUN acuan. Seharusnya jangan berhenti, memperluas pasar harus tetap dilakukan karena pasar ritel kita masih sangat kecil,” katanya, Kamis (22/2).

Menurutnya, bila menimbang kondisi yield SUN 3 tahun di pasar sekunder, idealnya minimal kupon yang diberikan atas sukuk ritel tahun ini adalah sekitar 6%-6,2%, atau sekitar 20-30 bps di atas yield seri SUN acuan.

Hanya saja, pemerintah tentu memiliki banyak pertimbangan lain sehingga cenderung akan menjaga tingkat cost of fund. Namun, kupon yang terlampau rendah selain akan menyulitkan agen untuk menjaring nasabah, juga akan menyebabkan pasar sekundernya akan kurang likuid pula nantinya.

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, mengatakan bahwa saat ini masyarakat investor cenderung tahu bahwa tren suku bunga Amerika Serikat akan terus meningkat tahun ini.

Hal ini menyebabkan investor cenderung sangat hati-hati untuk berinvestasi di instrumen yang lebih berisiko.

Tingkat volatilitas investasi di pasar global cenderung semakin tinggi, sedangkan yield US Treasury semakit meningkat. Oleh karena itu, bila instrumen investasi di pasar surat utang bagi investor ritel hanya menawarkan tingkat kupon yang rendah, investor akan kurang berminat.

Tag : sukuk negara, sukuk negara
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top