Pekan Depan IHSG Lanjutkan Penguatan, Bidik 6.470

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan menuju level 6.470 seiring dengan aksi beli investor asing, memanasnya harga komoditas, dan meningkatnya nilai tukar rupiah.
Hafiyyan | 13 Januari 2018 10:37 WIB
Karyawan beraktivitas di dekat papan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Senin (8/1). - JIBI/Felix Jody Kinarwan

Bisnis.com, JAKARTA—Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diprediksi melanjutkan penguatan menuju level 6.470 seiring dengan aksi beli investor asing, memanasnya harga komoditas, dan meningkatnya nilai tukar rupiah.

Pada penutupan perdagangan Jumat (12/1/2018), IHSG ditutup melemah 16,27 poin atau 0,25% menuju 6.370,06. Namun, indeks masih menguat 0,26% dalam sepekan dan naik 0,23% secara year to date (ytd).

Kemarin, investor asing mencatatkan net buy Rp316,12 miliar. Aksi ini membuat catatan net buy nasabah non residen mencapai Rp2,61 triliun atau US$195,87 juta sepanjang 2018.

Analis Binaartha Sekuritas M. Nafan Aji Gusta Utama menyampaikan, indeks mengalami koreksi pada akhir pekan setelah menyentuh 6.400. Dapat disimpulkan dalam 5 hari perdagangan, IHSG mengalami penguatan tipis.

Sejumlah faktor yang memengaruhi kinerja indeks dalam sepekan ialah rilis data ekonomi seperti cadangan devisa dan penjualan ritel yang melampaui ekspektasi.

Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia akhir Desember 2017 sebesar US$130,2 miliar, naik 3,36% month on month (mom). Adapun penjualan ritel November 2017 mencapai 2,2% year on year (yoy).

Peguatan nilai tukar nilai turut memengaruhi selera pasar. Namun, rilis data penjualan motor Desember 2017 yang turun 5% pada Jumat (12/1) membuat IHSG merah.

“Sebetulnya katalis sepekan cukup positif, tetapi ketika sentimen di penghujung pekan mulai minim, indeks terkoreksi,” tuturnya saat dihubungi Bisnis.com, Jumat (12/1/2018).

Dari sisi eskternal, penguatan IHSG juga ditopang meningkatnya harga sejumlah komoditas seperti minyak mentah, batu bara, dan minyak kelapa sawit. Selain itu, investor asing kembali cenderung melakukan aksi beli.

Menurut Nafan, aksi beli asing dipicu keyakinan investor terhadap prospek makro ekonomi Indonesia pada 2018. Apalagi iklim investasi masih cenderung sejuk pada awal tahun, sebelumnya gelaran Pemilihan Kepala Daerah.

Pekan depan IHSG diprediksi menguat menuju resistan 6.470, dengan level support kuat 6.220. Faktor utama yang diperhatikan pelaku pasar ialah rapat Dewan Gubernur BI yang diperkirakan masih mempertahankan level 7 days repo rate (7DDR) di 4,25%.

Vice president Research Department Indosurya Bersinar Sekuritas William Surya wijaya menuturkan, IHSG pada pekan depan diprediksi masih mengalami penguatan akibat tiga faktor utama, yakni berlangsungnya capital inflow, memanasnya harga komoditas, dan meningkatnya rupiah.

“Rilis sejumlah data ekonomi seperti cadangan devisa dan penjualan ritel cukup memengaruhi capital inflow,” tuturnya.

Menurutnya, kembalinya investor asing ke pasar modal juga disebabkan peralihan dana investasi. Pekan depan, IHSG akan bergerak di dalam rentang 6.525—6.202. Sejumlah sektor saham yang dapat diperhatikan ialah konsumsi, infrastruktur termasuk tekomunikasi, industri dasar, dan perbankan.

Dia menambahkan. rilis data neraca perdagangan Indonesia pada Senin (15/1) dapat menjadi sentimen pendorong indeks awal pekan. Namun, dua faktor utama yang masih dominan ialah memanasnya harga komoditas dan menguatnya rupiah.

Pada penutupan perdagangan Jumat (12/1/2018), mata uang rupiah menguat 47 poin atau 0,35% menjadi Rp13.353 per dolar AS. Ini merupakan level tertinggi sejak 25 September 2017 di posisi Rp13.325 per dolar AS.

 

Tag : IHSG
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top