Kepemilikan SBN: Peningkatan Porsi Asing Tidak Berbahaya

Lonjakan kepemilikan investor asing di instrumen Surat Berharga Negara di awal tahun ini relatif tidak akan terlalu mengancam kestabilan ekonomi nasional sebab basis investor domestik cukup kuat dan didukung strategi tepat pemerintah.
Emanuel B. Caesario | 10 Januari 2018 22:04 WIB
SURAT UTANG NEGARA

Bisnis.com, JAKARTA—Lonjakan kepemilikan investor asing di instrumen Surat Berharga Negara di awal tahun ini relatif tidak akan terlalu mengancam kestabilan ekonomi nasional sebab basis investor domestik cukup kuat dan didukung strategi tepat pemerintah.

Investor asing cukup agresif memburu surat utang pemerintah Indoensia di awal tahun ini. Belum sampai pertengahan bulan, kepemilikan asing di instrumen SBN tradeable sudah bertambah Rp23,9 triliun per Selasa (9/1) lalu.

Secara persentase, kepemilikan asing di SBN tradeable telah mencapai 40,83% dari total outstanding Rp2.106,6 triliun. Bila instrumen sukuk tidak dihitung, porsi kepemilikan asing pada instrumen Surat Utang Negara (SUN) saja mencapai 47,19% dari outstanding Rp1.766,48 triliun.

Porsi investor asing yang kian gemuk di SBN kerap menimbulkan ancaman di masa lalu. Pasalnya, ketika terjadi capital outflow, imbal hasil surat utang pemerintah seketika melonjak drastis, mengganggu kestabilan rupiah dan meningkatkan biaya dana di pasar surat utang domestik.

Anil Kumar, Analis Fixed Income Ashmore Asset Management Indonesia, mengatakan bahwa tingginya arus masuk investor asing di awal tahun ini menunjukkan investor masih sangat meminati Indonesia, meskipun arus masuk itu berarti mendorong imbal hasil menjadi semakin rendah.

Sepanjang awal tahun ini, imbal hasil SUN tenor 10 tahun sudah turun 13,8 bps ke level 6,181%. Investor asing tetap meminati Indonesia meskipun di saat yang sama yield US Treasury 10 tahun sudah naik 14,8 bps ke level 2,553%.

Anil menilai, sangat wajar bila investor asing sewaktu-waktu akan keluar lagi dari Indonesia karena didorong sentimen-sentimen tertentu yang saat ini sulit diprediksi. Lagi pula, ada banyak faktor di balik keputusan investasi para investor sehingga sulit hanya menunjuk satu hal sebagai penyebab utama.

Menurutnya, porsi investor asing yang sudah lebih dari 40% di SBN tradeable suatu hal yang positif, merespon data cadangan devisa Indonesia yang melonjak mencapai US$130,2 miliar. Hal tersebut juga dibutuhkan pemerintah untuk menutup defisit neraca berjalan.

Dirinya pun tidak terlalu khawatir terhadap adanya potensi capital outflow dalam waktu dekat karena sentimen eksternal. Menurutnya, the Fed hanya akan menaikkan suku bunga acuannya sekali saja pada tahun ini dan sekali lagi tahun depan, menepis kegamangan sejumlah pihak tentang potensi penaikan 3 kali tahun ini.

“Sumber-sumber inflasi di Amerika itu tidak ada, kenaikan gaji tidak secepat yang dikatakan,” ungkapnya, Rabu (10/1/2018).

Tag : Obligasi
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top