Pasokan Penuh, Harga Kedelai Tertekan

Pasokan komoditas yang berlebih kedelai di Amerika Serikat disertai dengan penurunan ekspor ke negara importir telah menekan laju pergerakan harga kedelai di perdagangan bursa berjangka.
Eva Rianti
Eva Rianti - Bisnis.com 17 Desember 2017  |  20:40 WIB
Pasokan Penuh, Harga Kedelai Tertekan
Kedelai - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Pasokan komoditas yang berlebih kedelai di Amerika Serikat disertai dengan penurunan ekspor ke negara importir telah menekan laju pergerakan harga kedelai di perdagangan bursa berjangka.

Departemen Pertanian AS (USDA) mengatakan bahwa persediaan kedelai AS sebagai negara produsen kedelai terbesar global, diperkirakan bakal meningkat lantaran permintaan ekspor yang lebih rendah di tengah meningkatnya persaingan dari pemasok global.

Dalam laporan supply and demand bulanannya, USDA menaikkan perkiraan stok akhir untuk kedelai. Sementara itu, posisi perdagangan kedelai berjangka di Chicago Board of Trade (CBOT) telah jatuh ke level terendah setelah data ini dirilis.

Seperti diketahui, kelebihan stok cenderung membuat harga tertekan ketika permintaan tengah tidak menguat. Terpantau, pada penutupan perdagangan Jumat (15/12), harga kedelai di bursa CBOT turun 0,75 poin atau 0,08% menjadi US$978 per bushel, level terendah dalam satu bulan terakhir.

“Kami meperkirakan stok akhir kedelai pada musim 2017/2018 sebanyak 445 juta gantang, atau naik 20 juta gantang dari proyeksi pada November lalu,” kata USDA dalam laporannya pekan kemarin yang dikutip Minggu (17/12/2017).

Angka itu menunjukkan penurunan perkiraan ekspor untuk minyak biji kedelai hingga 25 juta gantang dan meningkatnya penggunaan benih kedelai sebanyak 5 juta gantang.

Eksportir kedelai AS telah memprediksi adanya perlambatan laju pengiriman yang jauh lebih rendah dari apa yang diharapkan untuk memenuhi proyeksi bullish USDA. Di sisi lain, stok berlimpah dari produsen di Amerika Selatan seperti Argentina dan Brasil alhasil justru menjadi alternatif permintaan pembeli luar negeri selain dari kedelai AS.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kedelai

Sumber : Reuters

Editor : Pamuji Tri Nastiti

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top