Tren 'Bullish' Diprediksi Menurun, Pasar Asia Loyo

Pergerakan sejumlah indeks saham di Asia melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (30/11/2017), seiring dengan merosotnya performa bank-bank di Australia saat investor mencermati keberlanjutan kenaikan saham global.
Renat Sofie Andriani | 30 November 2017 08:45 WIB
bursa asia

Bisnis.com, JAKARTA – Pergerakan sejumlah indeks saham di Asia melemah pada awal perdagangan hari ini, Kamis (30/11/2017), seiring dengan merosotnya performa bank-bank di Australia saat investor mencermati keberlanjutan kenaikan saham global.

Indeks Topix Jepang dan indeks Nikkei 225 Stock Average masing-masing turun naik 0,2% dan 0,1% pada pukul 9.45 pagi waktu Tokyo (pukul 7.45 pagi WIB). Adapun indeks S&P/ASX 200 Australia melemah 0,6%. Demikian seperti dilansir Bloomberg.

Empat bank besar di Australia menjadi penekan utama terhadap indeks saham acuannya setelah Perdana Menteri Malcolm Turnbull mengatakan akan mengadakan pemeriksaan publik terhadap bank tersebut.

Sementara itu, pergerakan tiga indeks saham acuan Amerika Serikat (AS) di bursa Wall Street berakhir variatif pada perdagangan Rabu (29/11), dengan Nasdaq mencatatkan penurunan terbesar harian dalam lebih dari tiga bulan.

Indeks Nasdaq Composite ditutup merosot 1,27% atau 88,02 poin di level 6.824,34, indeks Dow Jones Industrial Average berakhir menguat 0,44% atau 103,97 poin di level 23.940,68, dan indeks S&P 500 turun tipis 0,04% atau 0,97 poin di 2.626,07.

Nasdaq merosot setelah investor melepas saham teknologi dan beralih ke saham bank dan saham lainnya yang dapat diuntungkan dari membaiknya kondisi ekonomi, peraturan dan pajak yang lebih rendah, serta tingkat suku bunga yang lebih tinggi.

Kubu Republik di Senat AS mengambil suara untuk memulai perdebatan tentang RUU perombakan pajak. Optimisme bahwa Senat akan meloloskan rencana pemotongan pajak perusahaan meningkatkan sentimen pertumbuhan laba perusahaan.

Pernyataan Gubernur Federal Reserve Janet Yellen bahwa pertumbuhan ekonomi semakin meluas membawa obligasi AS lebih rendah seiring dengan bertambahnya antusiasme untuk ekspansi ekonomi.

Perhatian pasar saat ini beralih pada data manufaktur di China dan keputusan kebijakan Bank of Korea (BOK). Mayoritas ekonom memperkirakan bank sentral Korea Selatan tersebut akan menaikkan suku bunga acuan untuk pertama kalinya sejak 2011.

Sementara itu, produksi industri Jepang meningkat pada bulan Oktober dibandingkan dengan tahun sebelumnya, kenaikan 12 bulan berturut-turut, didukung oleh ekspor yang berkinerja terbaik sejak krisis finansial global.

Di sisi lain, terdapat keraguan tentang berapa lama reli pasar dapat dipertahankan. Goldman Sachs Group Inc. mengatakan bahwa kondisi bullish yang berkepanjangan di pasar saham, obligasi, dan kredit telah meninggalkan ukuran valuasi rata-rata pada level tertinggi sejak 1900, yang pada akhirnya akan mengarah ke kondisi bearish.

Credit Suisse Group AG. pun mengatakan bahwa tren bullish mungkin memasuki peregangan terakhir, sebelum turun pada paruh kedua 2018. Pendapat mereka sejalan dengan Morgan Stanley yang mengingatkan bahwa tahun depan tidak akan mudah bagi investor ekuitas.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa asia

Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top