Data Inflasi Masih di Bawah Target, Indeks Topix Ditutup Melemah

Indeks Topix ditutup turun 0,08% atau 1,42 poin ke level 1.674,75, sedangkan indeks Nikkei 225 ditutup melemah tipis 0,03% atau 6,83 poin ke 20.356,28.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 29 September 2017  |  15:25 WIB
Data Inflasi Masih di Bawah Target, Indeks Topix Ditutup Melemah
Bursa Jepang Topix - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Jepang ditutup melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (29/9/2017) di tengah kenaikan inflasi yang masih di bawah target.

Indeks Topix ditutup turun 0,08% atau 1,42 poin ke level 1.674,75, sedangkan indeks Nikkei 225 ditutup melemah tipis 0,03% atau 6,83 poin ke 20.356,28.

Dai 225 saham yang diperdagangkan pada indeks Nikkei, 94 saham di antaranya menguat, sedangkan 119 saham melemah dan 12 saham stagnan.

Saham Yamamoto Holdings menjadi penekan indeks setelah  ditutup melemah 6,87% menyusul rilis target laba jangka menengah perusahaan yang dipandang mengecewakan.

Turut menekan indeks, saham FamilyMart Uny juga melemah 2,5% setelah analis SMBC Nikko mengatakan kinerja semester pertama perusahaan tidak akan dalam mendongkrak kinerja tahun ini.

Nilai tukar yen Jepang terpantau melemah 0,06% atau 0,07 poin ke level 112,41 yen per dolar AS.

Sementara itu, indeks harga konsumen Jepang mencatatkan kenaikan terbesar dalam lebih dari dua tahun sekaligus, walaupun masih jauh di bawah target Bank of Japan.

Indeks harga konsumen inti, selain makanan segar, naik 0,7% pada Agustus dibandingkan dengan setahun sebelumnya. Angka ini sejalan dengan prediksi untuk kenaikan yang sama.

Sementara itu, produksi industri meningkat 2,1% pada Agustus setelah turun 0,8% pada Juli, sedangkan tingkat pengangguran tetap berada di posisi 2,8% dan belanja rumah tangga naik 0,6% dibandingkan dengan setahun sebelumnya.

Jumlah tenaga kerja meningkat dan ukuran ekonomi telah berekspansi lebih dari 10% dengan arah menuju pertumbuhan untuk kuartal ketujuh berturut-turut.

Namun, hal positif tersebut sebagian besar disebabkan oleh stimulus fiskal dan moneter, yang telah mendorong utang sekaligus membengkakkan neraca bank sentral. Dan seperti halnya banyak negara lain, inflasi terlihat lesu dan tingkat upah tidak sejalan dengan kenaikan produk domestik bruto.

“Peningkatan pada inflasi Jepang, rebound dalam belanja rumah tangga, dan terus ketatnya pasar tenaga kerja pada bulan Agustus menunjukkan perbaikan ekonomi yang kukuh,” ujar Ekonom Bloomberg Intelligence, Yuki Masujima, seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (29/9/2017).

“Tingkat inflasi mengarah menuju 1% pada bulan Oktober, tapi untuk lebih tinggi dari itu sepertinya penuh tantangan, apalagi agar mencapai 2%,” lanjut Masujima. 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
bursa jepang

Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top
Tutup