89% Target ITMG Sudah Terkontrak

Sebanyak 89% dari target penjualan batu bara PT Indo Tambangraya Megah tbk. (ITMG) pada tahun ini sudah terkontrak dengan pembeli. Pada paruh kedua tahun ini, perseroan akan terus meningkatkan produktivitas.
Lukas Hendra TM | 21 Agustus 2017 13:33 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Sebanyak 89% dari target penjualan batu bara PT Indo Tambangraya Megah tbk. (ITMG) pada tahun ini sudah terkontrak dengan pembeli. Pada paruh kedua tahun ini, perseroan akan terus meningkatkan produktivitas.

Direktur Utama ITMG Kirana Limpaphayom mengungkapkan perseroan pada paruh pertama tahun ini mencetak laba bersih tiga lipat dibanding pada periode yang sama tahun lalu berkat rata-rata harga jual batu bara yang naik secara bermakna.

Laba bersih tercatat US$105 juta pada semester pertama 2017 dibandingkan US$36 juta pada periode yang sama tahun sebelumnya. Rata-rata harga jual batu bara pada paruh pertama tercatat US$68,4 per ton, naik 48% dari US$46,3 per ton pada periode yang sama tahun lalu. Kenaikan rata-rata harga batu bara global disebabkan oleh permintaan yang meningkat terutama di China karena pasokan dalam negeri yang terbatas.

Dia mengungkapkan dengan volume penjualan 10,9 juta ton pada sepanjang semester pertama, perusahaan membukukan penjualan bersih sebesar US$749 juta pada tahun ini, naik 23% dari US$609 juta pada periode yang sama tahun lalu.

Marjin laba kotor pada kurun waktu tersebut sebesar 28% dibandingkan 19% pada kurun waktu yang sama tahun lalu, sedangkan EBIT naik 173% menjadi US$160 juta secara year-on-year.

Menurutnya, sampai dengan akhir paruh pertama 2017, total aktiva perseroan bernilai US$1,25 miliar dengan ekuitas US$916 juta. Perusahaan mempertahankan posisi kas dan setara kas sebesar US$370 juta tanpa hutang pada akhir semester pertama.

Dia menambahkan perseroan menjual 10,9 juta ton batu bara sepanjang paruh semester pertama yang dikapalkan ke Jepang sebesar 2,3 juta ton, China 2,3 juta ton, Indonesia 1,4 juta ton, Thailand 1,3 juta ton, India 0,9 juta ton, Korea Selatan 0,8 juta ton, Filipina 0,8 juta ton, dan negara-negara lain di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara.

“Untuk tahun 2017 volume produksi ditargetkan 23,8 juta ton sedangkan target volume penjualan ditargetkan 25 juta ton. Dari angka itu, 89% sudah terjual,” katanya dalam keterangan resminya, Jumat (18/8/2017).

Perseroan menilai harga batu bara pada paruh kedua tahun ini diperkirakan dipengaruhi kebijakan produksi batu bara di China. Pasalnya, pemerintah China telah mencabut pengetatan produksi batu bara dalam negeri semenjak kuartal pertama, namun kapasitas produksi negara tersebut sepertinya tidak dapat memenuhi kenaikan permintaan yang cepat. Harga jual batu bara diharapkan stabil sampai penghujung tahun.

“Tahun ini perusahaan akan terus meningkatkan produktivitas, misalnya dengan meningkatkan infrastruktur tambang dan memaksimalkan proses seperti mempercepat siklus penongkangan,” katanya.

Selain itu, perseroan juga terus berusaha untuk tetap di depan memimpin kecenderungan pasar dan tetap luwes dalam jangka pendek maupun jangka panjang guna memaksimalkan jumlah cadangan batu bara.

Kirana menambahkan perseroan menjalankan beberapa strategi guna menangkap marjin pada sepanjang rantai nilai dengan lebih banyak menggunakan kontraktor internal, membeli batu bara dari pihak ketiga guna meningkatkan nilai proses pencampuran batu bara serta meningkatkan efektivitas pembelian dan logistik bahan bakar guna meminimalkan harga. Selain itu sejalan dengan pertumbuhan kebutuhan tenaga listrik di dalam negeri, perseroan telah meragamkan bisnis inti dengan berinvestasi pada bidang pembangkit energi.

Tag : itmg
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top