Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Kuartal I/2017, Penjualan Bakrie Sumatera Plantations (UNSP) Naik 24 Persen

Penjualan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. tumbuh 24% year-on-year menjadi Rp414 miliar pada kuartal I/2017.
Ana Noviani
Ana Noviani - Bisnis.com 06 Juli 2017  |  16:41 WIB
Logo Bakrie Sumatera Plantations - bakriesumatera.com
Logo Bakrie Sumatera Plantations - bakriesumatera.com

Bisnis.com, JAKARTA - Penjualan PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk. tumbuh 24% year-on-year menjadi Rp414 miliar pada kuartal I/2017.

Direktur & Investor Relations Bakrie Sumatera Plantations Andi W. Setianto mengatakan pendapatan itu bersumber dari penjualan komoditas sawit senilai Rp253 miliar dan komoditas karet Rp161 miliar.

"Berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada kuartal kedua dan mencapai puncaknya di semester kedua setiap tahun. Tahun ini kami optimis kinerja perseroan terus membaik," kata Andi dalam keterangan resmi, Kamis (6/7).

Dari sisi harga, nilai jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di pasar internasional berfluktuasi sepanjang kuartal I/2017 dari US$720 per ton FOB Malaysia pada Januari ke level US$660 per ton FOB Malaysia pada Maret 2017. 

Dari sisi laba kotor, emiten berkode saham UNSP ini mengalami kenaikan 355% year-on-year dari Rp46 miliar menjadi Rp210 miliar pada akhir Maret 2017. Sejalan dengan itu, UNSP mengantongi laba operasional sebesar Rp117 miliar membalik posisi rugi operasional Rp48 miliar pada kuartal I/2016. 

Pada perkembangan lain, UNSP menargetkan dapat merampungkan upaya konversi utang menjadi saham (debt to equity swap) pada tahun ini. Untuk itu, perseroan telah dua kali menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Luar Biasa namun belum mencapai kuorum. 

"Debt to equity swap secepatnya dengan target tahun ini selesai. Tentunya kami harus public-disclosure melewati proses OJK dan Bursa Efek Indonesia sesuai dengan peraturan pasar modal," tutur Andi. 

Opsi debt to equity swap tersebut diprioritaskan pada liabilitas perseroan yang memiliki tingkat bunga tinggi, yakni wesel bayar. 

Wesel bayar diterbitkan UNSP pada 18 Februari 2010 senilai US$77,5 juta dan tingkat kupon tetap sebesar 8% per tahun dan jatuh tempo pada 1 Maret 2013. Lantas pada 4 Februari 2011, Wesel Bayar diamandemen dengan fasilitas baru sampai dengan US$100 juta dan akan jatuh tempo pada 2017. 

Namun, sejak 4 September 2014, UNSP mengalami gagal bayar bunga (default) kepada para pemegang Wesel bayar tersebut. Hingga kini, UNSP secara proaktif dan intensif melakukan pembicaraan dengan para pemegang Wesel bayar melalui Bank of New York sebagai wali amanat.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

cpo unsp
Editor : Riendy Astria

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top