Brent Anjlok di Bawah Level US$45

Patokan minyak Brent untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup melemah 2,67% atau 1,23 poin ke level US$44,79 per barel di ICE Futures Exchange yang berbasis di Eropa.
Aprianto Cahyo Nugroho | 22 Juni 2017 06:26 WIB
Minyak West Texas Intermediate - Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – Minyak mentah Brent anjlok di bawah US$45 per barel untuk pertama kalinya sejak November pada perdagangan Rabu (21/6/2017) karena pesimisme terhadap pembatasan pasokan minyak mentah berlanjut.

Patokan minyak Brent untuk kontrak pengiriman Agustus ditutup melemah 2,67% atau 1,23 poin ke level US$44,79 per barel di ICE Futures Exchange yang berbasis di Eropa.

Sementara itu, minyak patokan West Texas Intermediate untuk kontrak Agustus ditutup merosot 2,25% atau 0,98 poin ke level US$42,53 per barel diNew York Mercantile Exchange.

Seperti dilansir Bloomberg, Penurunan persediaan minyak AS tidak cukup untuk menghilangkan pesimisme yang melanda pasar bulan ini karena persediaan AS tersebut masih berada di atas rata-rata musiman dan produksi terus meningkat.

Minyak telah kembali ke level sebelum Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu termasuk Rusia memutuskan untuk mengurangi produksi guna menguras kelebihan pasokan global. Pengeboran tanpa henti di ladang minyak shale AS dan peningkatan output Libya mengancam kesepakatan tersebut.

Stok minyak mentah AS turun 2,45 juta barel pekan lalu dan pasokan bensin turun sebesar 577.999 barel, menurut laporan Administrasi Informasi Energi pada hari Rabu. Sementara itu, produksi minyak naik menjadi 9,35 juta barel per hari, level tertinggi dalam hampir dua tahun terakhir.

Gene McGillan, manajer riset pasar Tradition Energy, mengatakan data penurunan persediaan tersebut masih belum cukup untuk menghilangkan kekhawatiran pasar.

"Saya akan terkejut jika ini adalah awal dari perputaran sentimen [yang menuju ke arah positif],” ungkapnya, seperti dikutip Bloomberg, Rabu (21/6/2017).

Sebelumnya, komite bersama OPEC dan anggota non-OPEC pada Selasa menyimpulkan bahwa pasar tidak akan masuk ke fase keseimbangan kembali sampai kuartal kedua 2018, melampaui kesepakatan akhir dari kesepakatan pematasan output.

Faktor-faktor yang berpotensi bullish gagal untuk mengangkat harga, termasuk Badai Tropis Cindy yang menghentikan layanan di terminal minyak utama di Teluk Meksiko, goncangan di keluarga kerajaan Saudi, dan Menteri Perminyakan Iran Bijan Namdar Zanganeh yang mengatakan bahwa OPEC dapat memutuskan untuk melakukan pemangkasan lebih dalam.

"Tidak ada katalis bullish untuk minyak yang dapat dilihat saat ini dan dengan demikian harga merosot," kata Bjarne Schieldrop, analis komoditas utama SEB AB.

"Akan sulit bagi Saudi dan Rusia untuk terus memotong produksi dalam menghadapi kenaikan kuat produksi AS dan output minyak mentah di Libya,” lanjutnya.

Tag : harga minyak mentah
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top