BAYU Anggarkan Capex Rp50 Miliar Untuk Belanja Lahan

Emiten pariwisata PT Bayu Buana Tbk. berencana menganggarkan belanja modal Rp50 miliar tahun ini, sebagian besar untuk belanja lahan guna pengembangan bisnis hotel di masa mendatang.nn
Emanuel B. Caesario | 18 Mei 2017 01:03 WIB
Pengunjung berdiri di dekat papan elektronik yang menampilkan pergerakan harga saham, di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta. - REUTERS/Iqro Rinaldi

Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pariwisata PT Bayu Buana Tbk. berencana menganggarkan belanja modal Rp50 miliar tahun ini, sebagian besar untuk belanja lahan guna pengembangan bisnis hotel di masa mendatang.

Hardy Karuniawan, Direktur Bayu Buana, mengatakan bahwa dari nilai tersebut, kurang lebih sebesar Rp40 miliar dialokasikan untuk belanja lahan. Menurutnya, perseroan membutuhkan lahan untuk pendirian kantor cabang utama di Jakarta serta untuk pengembangan hotel.

Emiten dengan kode saham BAYU ini memang memiliki rencana jangka panjang diversifikasi bisnisnya ke sektor perhotelan. Bisnis perhotelan masih sejalan dengan bisnis utama perseroan di bilang perjalanan wisata.

“Kita mencari lahan untuk office di Jakarta mungkin sekitar 1.500 m2, untuk hotel juga bisa pengembangan ke sana,” katanya dalam acara paparan publik, Rabu (17/5/2017).

Adapun, kantor cabang utama yang hendak dibangun perseroan berfungsi sebagai kantor koordinasi terhadap cabang-cabang pemasaran paket perjalanan wisata perseroan. Di Jakarta, perseroan memiliki 12 cabang pemasaran yang tersebar di sejumlah pusat perbelanjaan maupun rumah toko.

Selain di Jakarta, cabang pemasaran perseroan tersebar juga di berbagai wilayah lain, di Jawa maupun luar Jawa. Sejauh ini, perseroan memiliki 18 cabang milik sendiri dan tiga cabang yang dimiliki melalui skema kemitraan. Ketiga cabang tersebut semunya di luar Jawa.

Hardy mengatakan, perseroan juga menganggarkan belanja modal tahun ini untuk membuka cabang-cabang pemasaran baru. Sedikitnya, perseroan menargetkan pembukaan tiga cabang baru tahun ini.

Menurutnya, kebutuhan modal untuk membuka cabang baru melalui penyewaan ruang di mal berkisar pada Rp1,5 miliar per cabang. Namun, jika melalui pembelian rumah toko, investasi yang dibutuhkan bisa mencapai Rp12 miliar hingga Rp13 miliar.

Sepanjang tahun ini, perseroan belum membuka cabang baru. Sejauh ini, kucuran belanja modal perseroan lebih banyak untuk pengembangan sistem layanan teknologi informasi untuk meningkatkan kualitas layanan perjalanan wisata perseroan.

Sistem yang lebih efisien diharapkan selain bisa menekan beban usaha perseroan, juga meningkatkan daya saing perseroan di industri pariwisata.

Agustinus Pake Seko, Direktur Utama BAYU, mengatakan untuk bisnis perhotelan, perseroan mengincar sejumlah kawasan di luar Jawa, seperti Kalimantan, Sumatra, Bali dan Lombok. Perseroan menyasar lahan di kawasan-kawasan tersebut dengan prioritas pemanfaatan untuk pengembangan hotel.

Meski mulai gencar mengakuisisi lahan, Agus mengaku perseroan belum akan merealisasikan pembangunan hotel dalam tahun ini, mengingat kondisi bisnis hotel di Indonesia masih belum cukup bergairah akibat tekanan ekonomi dan kelebihan pasokan.

“Hotel memang salah satu lini diversifikasi yang ingin kami lakukan, hanya saja yang kami lakukan saat ini lebih pada mengakuisisi aset dulu. Sementara kapan waktunya, kami masih tunggu saat yang tepat karena rata-rata okupansi hotel saat ini masih 53%-55%,” katanya.

Tag : bayu buana
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top