Pasar Aluminium 2017 Diprediksi Surplus Tipis

Pasar aluminium diperkirakan mengalami sedikit surplus pasokan sebesar 300.000-700.000 ton pada 2017.
Hafiyyan
Hafiyyan - Bisnis.com 25 April 2017  |  09:38 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Pasar aluminium diperkirakan mengalami surplus pasokan sebesar 300.000-700.000 ton pada 2017.

Dalam presentasinya, Selasa (25/4/2017), perusahaan aluminium Alcoa memprediksi pasar akan mengalami sedikit suprlus pasokan, yakni sejumlah 300.000-700.000 ton. Angka ini lebih rendah dari proyeksi surplus yang dirilis Januari 2017 sejumlah 400.000-800.000 ton.

"Kelebihan pasokan aluminium di China akan berkurang," paparnya seperti dikutip dari Bloomberg, Selasa (25/4/2017).

Perusahaan memperkirakan permintaan aluminium global pada 2017 akan meningkat 4,5%-5% pada 2017. Di China, sebagai produsen sekaligus konsumen terbesar di dunia, volume permintaan akan naik 6,5%.

Berdasarkan data Bank Dunia, China merupakan produsen sekaligus konsumen aluminium terbesar di dunia. Pada 2015, produksi Negeri Panda mencapai 31,41 juta ton dari total global 57,34 juta ton, sedangkan konsumsi sebesar 31,07 juta ton dari total global 57,08 juta ton.

Pada penutupan perdagangan Senin (25/4/2017), harga alumunium di London Metal Exchange naik 12,5 poin atau 0,65% menjadi US$1.946 per ton. Angka ini menunjukkan kenaikan 14,94% sepanjang tahun berjalan (year ton date/ytd), tertinggi dibandingkan logam lainnnya.

Tahun lalu, harga aluminium tumbuh 12,34%. Per 30 Desember 2016, harga berada di posisi US$1.693 per ton.

Citigroup Inc., memaparkan harga aluminium terangkat setelah pemerintah China memberikan perlakukan tegas terhadap pengoperasian pabrik yang tidak sesuai standar. Diperkirakan jumlah pasokan yang berkurang mencapai 5 juta ton dari keseluruhan kapasitas tahunan sebesar 45 juta ton.

Jeffrey Currie dan Yubin Fu, analis Goldman Sachs Group Inc., memaparkan rencana China memangkas produksi aluminium dan alumina menjadi faktor utama yang mengubah peta pasar.


Kebijakan yang bertujuan mengurangi polusi udara ini diperkirakan membuat pasar global mengalami defisit pasokan, sehingga harga bakal menguat.

Pengurangan produksi diperkirakan mencapai 1 juta ton pada 2017, dan bertambah menjadi 2 juta ton pada 2018. Dalam dua tahun ini, rerata defisit pasar aluminium sekitar 300.000 ton per tahun.

Sebelumnya, Ministry of Environmental Protection (MEP) China mengarahkan pelaku usaha agar mengurangi poduksi sekitar 30% untuk industri smelter aluminium dan sejumlah 50% untuk industri penyulingan di provinsi Shandong, Shanxi, Hebei, dan Henan. Kebijakan ini berlangsung mulai November 2016 sampai dengan Maret 2017.

Keempat provinsi ini berkontribusi terhadap 20% total produksi aluminium global. Oleh karena itu, harga logam anti karat ini berada dalam tren bullish.

Goldman memprediksi, harga pada akhir kuartal II/2017 US$2.00 per ton, dan kuartal terakhir senilai US$2.100 per ton.

Jeffrey Currie dan Yubin Fu menambahkan, sebetulnya selain karena faktor lingkungan, kebijakan pengurangan produksi China bertujuan menguatkan harga di tingkat global.

"Dengan reformasi dari sisi suplai, harapannya kinerja perusahan alumunium dan alumina meningkat, sehingga turut menyeimbangkan neraca perbankan," ujar keduanya dalam riset pada 6 Maret 2017.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
aluminium, aluminium, harga alumunium

Sumber : bloomberg

Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top