Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Surya Internusa (SSIA) Kantongi Restu Pemegang Saham Untuk Divestasi Tol Cipali

Emiten pengembang kawasan industri PT Surya Semesta Internusa Tbk. telah mengantongi restu pemegang saham untuk melakukan divestasi lini bisnis jalan tolnya di ruas Cikopo—Palimanan kepada PT Astratel Nusantara.
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 05 April 2017  |  13:43 WIB
Surya Internusa (SSIA) Kantongi Restu Pemegang Saham Untuk Divestasi Tol Cipali
Tol Cipali. - Antara
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA— Emiten pengembang kawasan industri PT Surya Semesta Internusa Tbk. telah mengantongi restu pemegang saham untuk melakukan divestasi lini bisnis jalan tolnya di ruas Cikopo—Palimanan kepada PT Astratel Nusantara.

Persetujuan tersebut diperoleh setelah perseroan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa kedua (RUPSLB 2) pada Rabu (5/4/2017) di Jakarta. Pada RUPSLB 1 yang digelar bulan lalu, perseroan belum memperoleh persetujuan lantaran kuorum rapat tidak terpenuhi.

RUPSLB 2 kali ini berhasil memenuhi kuorum kehadiran pemegang saham yang dipersyaratkan mencapai 2/3 atau 67% dari total pemegang saham. Pemegang saham yang hadir mencapai lebih dari 70%.

Johannes Suriadjaja, Presiden Direktur Surya Semesta mengatakan, perseroan memperoleh persetujuan dari sekitar 80% pemegang saham yang hadir untuk rencana divestasi tersebut. Dengan begitu, perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) yang telah dilakukan bersama Astratel bisa dilanjutkan dengan penandatanganan akta jual beli (AJB).

Perseroan sudah menandatangani perjanjian pengikatan jual beli (PPJB) bersyarat dengan Astratel Nusantara, anak usaha PT Astra International Tbk, pada Januari lalu. Pada prinsipnya, Astratel sudah siap untuk mengambil alih 60% saham perseroan pada PT Baskhara Utama Sedaya (BUS), tinggal menunggu persetujuan pemegang saham SSIA.

Adapun, BUS merupakan pemegang 45% saham di PT Lintas Marga Sedaya (LMS) yang adalah operator jalan tol Cikopo—Palimanan. Pemegang saham utama LMS adalah Pluss Expressway Bhd, anak usaha UEM Group, operator jalan tol terbesar di Malaysia.

Saham SSIA pada BUS dimiliki oleh dua anak usahanya, masing-masing PT Karsa Sedaya Sejahtera (KSS) sebanyak 45,62% dan PT Nusa Raya Cipta Tbk. (NRCA) sebanyak 14,38%. SSIA akan mengantongi Rp2,56 triliun dari transaksi itu, masing-masing Rp2,34 triliun dari KSS dan Rp233 miliar dari NRCA.

Johannes mengatakan, setelah memperoleh persetujuan pemegang saham, rencana transaksi ini juga masih harus memenuhi sejumlah persyaratan lain. Di antaranya yakni persetujuan dari bank-bank yang ikut membiayai investasi tol ini serta dari Pluss Expressway selaku pemegang saham mayoritas pada LMS.

“Kita harapkan kalau semua kondisi yang dipersyaratkan dalam PPJB sudah bisa terpenuhi semua, mungkin bulan ini akan selesai dan transaksi sudah bisa dilakukan. Sebanyak 15% dari nilai transaksi akan dibayar saat AJB dan sisanya dalam bentuk piutang yang akan dilunasi pada 15 Januari 2018,” katanya, Rabu (5/4/2017).

Adapun, 15% dari nilai transaksi tersebu setara dengan Rp384 miliar.

Saat ini perseroan masih mengkaji rencana pemanfaatan dana tersebut. Yang jelas, sebagian dana tersebut akan digunakan untuk pembelian lahan di Subang, Jawa Barat, yang akan menjadi kawasan industri baru perseroan.

Perseroan menargetkan pembebasan tahun ini dapat mencapai 1000 hektare. Sekitar 50% dari jumlah tersebut sudah bebas tahun lalu.

Selain itu, perseroan memiliki obligasi jatuh tempo senilai Rp550 miliar pada November tahun ini. Perseroan masih mempertimbangkan kemungkinan penggunaan dana hasil transaksi itu untuk pelunasan utang itu.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ssia jalan tol cipali
Editor : Gita Arwana Cakti
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top