Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

AKSI PANR: Gandeng JTB, Panorama Sentrawisata Targetkan Pertumbuhan Usaha 300%

Emiten pariwisata PT Panorama Sentrawisata Tbk. (PANR) berencana untuk bersinergi dengan perusahaan pariwisata asal Jepang, JTB Pte. Ltd
Emanuel B. Caesario
Emanuel B. Caesario - Bisnis.com 08 Februari 2017  |  20:59 WIB
AKSI PANR: Gandeng JTB, Panorama Sentrawisata Targetkan Pertumbuhan Usaha 300%
Bursa Efek Indonesia. - .Bisnis/Endang Muchtar
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Emiten pariwisata PT Panorama Sentrawisata Tbk. (PANR) berencana untuk bersinergi dengan perusahaan pariwisata asal Jepang, JTB Pte. Ltd.

Kerja sama ini diproyeksikan mampu mendukung pertumbuhan pendapatan perseroan hingga 300% dalam lima tahun.

Berdasarkan keterbukaan informasi yang dirilis perseroan di koran Bisnis Indonesia, Rabu (8/2/2017), kerja sama tersebut rencananya dilakukan melalui pengambilalihan sebagian saham perseroan pada anak usaha perseroan, yakni PT Panorama Tours Indonesia (PTI).

Saat ini, saham PTI dimiliki oleh PANR (89,38%), anak usaha PANR yakni PT Duta Chandra Kencana (0,72%), dan PT Weha Transportasi Indonesia Tbk./WEHA (9,9%).

PANR dan JTB sebelumnya telah sepakat bekerjasama dan kini berniat meminta restu pemegang saham. PANR akan melepas 29,39% sahamnya dan 0,72% saham Duta Chandra Kencana. Nilai transaksi pelepasan saham tersebut akan mencapai Rp369,72 miliar.

Di sisi lain, WEHA selaku salah satu pemegang saham PTI juga telah setuju untuk melepas seluruh kepemilikan sahamnya pada PTI kepada JTB. Berdasarkan publikasi yang dirilis WEHA di bursa, keduanya telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Saham Bersyarat pada 30 Januari 2017 yang lalu.

Saat ini, baik WEHA maupun PANR tengah berencana untuk meminta restu pemegang saham terhadap rencana aksi korporasi tersebut. Bila aksi korporasi ini disetujui, JTB akan memiliki 40% saham pada PTI sekaligus mengganti nama PTI menjadi PT Panorama JBT Tours Indonesia.

JTB Pte. Ltd. merupakan perusahaan asal Singapura yang adalah bagian dari JTB Corporation yang bermarkas di Jepang. JTB telah memiliki pengalaman di bidang industri pariwisata lebih dari 100 tahun dan memiliki 491 kantor yang tersebar di 34 negara di seluruh dunia.

Dalam keterbukaan informasi PANR, direksi perseroan mengungkapkan transaksi tersebut akan tergolong transaksi material sebab nilai rencana transaksi lebih dari 50% dari nilai ekuitas perseroan yang per 30 Juni 2016 mencapai Rp611,9 miliar. Persetujuan pemegang saham akan dimintai saat RUPSLB yang rencananya digelar pada 17 Maret 2017.

Kerjasama tersebut ditujukan untuk meningkatkan kapasitas dan kapabilitas perseroan, sekaligus mewujudkan visi jangka panjang untuk menjadi perusahaan pariwisata kelas dunia. Dalam siaran pers yang dirilis perseroan pada Rabu (8/2/2017), perseroan mengestimasikan pertumbuhan pendapatan akan mencapai 300% dalam lima tahun karena kerjasama tersebut.

President Director & CEO PANR Royanto Handaya mengatakan, kerjasama dengan JTB memiliki enam sasaran. Pertama, mengembangkan pasar inbound dan outbound ke/dari Indonesia melalui jaringan dan saluran distribusi ratusan perusahaan multinasional Jepang dan ribuan tenaga kerja asal Jepang di Indonesia.

Kedua, fokus menjadikan Jepang sebagai salah satu destinasi unggulan wisata mancanegara. Ketiga, mensinergikan jaringan JBT di seluruh dunia kepada Panorama JBT Tours. Keempat, menjadi tolok ukur system teknologi dan produk pelayanan ke tingkat dunia.

“Kelima, membuat Panorama JBT Tours sebagai perusahaan yang regional, dan keenam, semakin berkembang dengan merger dan akuisisi yang tepat,” katanya.

Berdasarkan laporan keuangan kuartal III/2016 PTI, anak usaha PANR ini berhasil mencatatkan peningkatan pendapatan usaha 45,44% dibandingkan akhir tahun 2015 (year to date/ytd) dari Rp1,28 triliun menjadi Rp1,86 triliun. Meski begitu, PTI justru mencatatkan penurunan laba komprehensif 76,4% ytd dari semula Rp63 miliar menjadi hanya Rp14,9 miliar.

Hal tersebut terutama disebabkan oleh peningkatan beban pokok pendapatan perseroan yang mencapai 64,2%, dari Rp1,05 triliun menjadi Rp1,73 triliun. Perseroan belum menjelaskan alasan membengkaknya beban ini.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

panr
Editor : Linda Teti Silitonga
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top