Jelang Libur Lebaran, Indeks Dolar AS masih Berpotensi Melemah

Pergerakan indeks dolar AS diprediksi melanjutkan tren pelemahan seiring potensi penurunan transaksi selama libur hari raya Idulfitri. Di sisi lain, dolar AS juga tengah tertekan oleh data pengangguran yang meningkat serta pertumbuhan industri manufaktur China yang masih terkontraksi.
Surya Rianto | 02 Juli 2016 12:04 WIB
Mata uang dolar Amerika Serikat - Antara

Bisnis.com, JAKARTA -- Pergerakan indeks dolar AS diprediksi melanjutkan tren pelemahan seiring potensi penurunan transaksi selama libur hari raya Idulfitri. Di sisi lain, dolar AS juga tengah tertekan oleh data pengangguran yang meningkat serta pertumbuhan industri manufaktur China yang masih terkontraksi.

Pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu, indeks dolar AS melemah 0,51% menjadi 95,64. Secara year to date (ytd), indeks dolar AS sudah mencatatkan penurunan sebesar 3,03% pada tahun ini.

Ibrahim, Direktur Utama PT Garuda Berjangka, mengatakan Indeks dolar AS mungkin akan mencatatkan pelemahan pada pekan depan seiring dengan sepinya transaksi dan dijadikan aksi jual oleh para spekulan.

"Selain itu, indeks dolar AS jua akan tertekan dari potensi klaim pengangguran yang diprediksi bisa lebih tinggi dibandingkan sebelumnya serta pengaruh dari kontraksi manufaktur China yang masih terus berlanjut," ujarnya kepada Bisnis pada Sabtu (2/7).

Menurut konsesus Bloomberg, pertumbuhan klaim penganggguran Amerika Serikat (AS) berpotensi naik menjadi 4,8% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang sebesar 4,7%. Di sisi lain, data non-farm payrolls pun dikonsesuskan mampu melonjak 180.000 dari posisi 38.000 pada bulan lalu.

Adapun, posisi manufaktur China menurut data swasta pada bulan lalu masih terkontraksi pada level 49 atau masih terkontraksi.

Ibrahim menuturkan secara umum indeks dolar AS masi akan terfluktuasi sepanjang tahun ini. "Indeks dolar AS bisa saja kembali ke 97, tetapi pada pekan depan mungkin terus melemah ke level 95," tuturnya.

Tag : dolar as
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top