DLTA Bidik Pertumbuhan Minimal 10%

Emiten produsen bir PT Delta Djakarta menargetkan pertumbuhan double digit untuk penjualan dan laba tahun ini yaitu minimal 10%
Lingga Sukatma Wiangga | 17 Mei 2016 23:31 WIB
Produk PT Delta Djakarta - Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten produsen bir PT Delta Djakarta menargetkan pertumbuhan double digit untuk penjualan dan laba tahun ini yaitu minimal 10%.  

Alan Fernandez, Direktur Keuangan Delta Djakarta, mengatakan pertumbuhan 10% merupakan angka yang relatif aman untuk dibidik perseroan.

Pasalnya, sejak  dibelakukannya Peraturan Menteri Perdagangan Nomor 06/M-DAG/PER/1/2015 terkait dilarangnya minimarket dan pengecer menjual minuman beralkohol dengan kadar alkohol di bawah 5% atau jenis bir kinerja keuangan perseroan sempat terganjal.

“Target pertumbuhan total revenue kami double digit untuk tahun ini, angka amannya sekitar 10% karena kami masih sangat tergantung Permendag nomor 6/2015,” katanya, Selasa (17/5/2016).

Menilik laporan keuangan emiten bersandi saham DLTA tersebut, pada 2015 total pendapatan perseroan mencapai Rp1,57 triliun dengan laba Rp190,47 miliar. Jumlah itu menurun cukup tajam jika dibandingkan tahun sbelumnya yang disinyalir akibat diberlakukannya regulasi Menteri Perdagangan tersebut sejak Januari 2015.

Total pendapatan DLTA tahun lalu turun 25,5% dibandingkan dengan revenue pada  2014 yang sebesar Rp2,11 triliun. Adapun untuk laba bersih pada 2015 anjlok 32,6% dari net profit tahun sebelumnya yang sebesar Rp282,58 miliar.

Dampak regulasi itu pun mempengaruhi utilisasi kapasitas produksi perseroan. Dalam setahun, DLTA mampu memproduksi hingga 1,1 juta hekto liter. Tahun lalu kapasitas produksi terpakai di bawah 50%, padahal pada 2014 tingkat utilisasi menyentuh 70%

Alan menyebut, optimisme pihaknya meraih pertumbuhan double digit tahun ini tak terlepas pula dari kinerja keuangan pada kuartal I/2016 yang positif. Pada periode tersebut perseroan mencatatkan penjualan sebesar Rp430,69 miliar dengan laba tahun berjalan yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk Rp57,02 miliar.

Raihan pendapatan dan laba itu masing-masing naik sekitar 30,7% dan 108% dibandingkan periode yang sama 2015 yang sebesar Rp329,31 miliar dan Rp27,4 miliar. Dia mengatakan, penaikan kinerja pada tri wulan pertama tahun ini tak terlepas dari kenaikan harga jual masing-masing produk pada pertengahan tahun lalu.

Di sisi lain, pada kuartal I/2016 tingkat utilisasi kapasitas produksi perseroan naik menjadi 55% hingga 60%. Pada Juni tahun ini pun perseroan pemasar produk bir Anker, Carlsberg, San Miguel dan Kuda Putih tersebut akan kembali manikin harga sekitar 10%. Kenaikan harga ditempuh, selain untuk menigkatkan pendapatan juga karena bahan baku yaitu malt yang diimpor mengalami penaikan harga pula.

Adapun untuk mengatrol pendapatan tahun ini perseroan menganggarkan belanja modal hingga Rp16 miliar. Belanja modal tersebut disebut Alan tergolong sedikit karena pihaknya harus berhati-hati berinvestasi pasca Permendag tersebut diberlakukan.

“Capex itu akan difokuskan pada asset penjualan,” imbuhnya.

Perseroan berharap, dengan fokus pada ekspansi aset penjualan akan mendorong pemesanan bir yang tinggi di super market, restoran, hotel dan tempat-tempat yang masih bisa dijangkau dan tak terganjal regulasi tersebut. Ditanyai terkait diversifikasi produk, Alan mengakui jika pihaknya harus melakukan studi yang mendalam.

Perseroan memang pernah memasarkan soda sebagai diversifikasi produk. Namun hal itu sudah tidak dilakukan sejak tahun lalu saat pemerintah mengeluarkan regulasi adanya pemisahan pabrik antara minuman beralkohol dan non alcohol untuk meningkatkan investasi.

Menurutnya, pihaknya kini harus mempertimbangkan investasi yang besar dan persaingan yang ketat untuk kembali melakukan diversifikasi produk. Di sisi lain, perseroan pun belum berencana memperluas pasar ekspor selain ke  Taiwan dan Thailand.

Sebabnya, perluasan ekspor akan bergantung penerimaan produk di negara tujuan serta keputusan principal. Saat ini ekspor hanya berkontribusi kurang dari 1% terhadap penjualan.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
kinerja emiten

Editor : Nancy Junita

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top