Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

MINYAK MENTAH: Harga WTI ke Titik Terendah US$35,52

Harga minyak di New York turun ke terendah baru multi-tahun pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah data AS menunjukkan peningkatan besar dalam persediaan minyak dan tingkat yang lebih tinggi pada produk-roduk minyak penting.
Kilang BBM/Ilustrasi
Kilang BBM/Ilustrasi

Bisnis.com, NEW YORK - Harga minyak di New York turun ke terendah baru multi-tahun pada Rabu (Kamis pagi WIB), setelah data AS menunjukkan peningkatan besar dalam persediaan minyak dan tingkat yang lebih tinggi pada produk-roduk minyak penting.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Januari, turun US$1,83 menjadi menetap pada US$35,52 per barel di New York Mercantile Exchange, harga penutupan terendah sejak Februari 2009.

Di London, minyak mentah Brent untuk pengiriman Januari kehilangan US$1,26 menjadi berakhir di US$37,19 per barel.

Sebuah laporan mingguan persediaan minyak dari Departemen Energi AS menunjukkan bahwa pasokan minyak mentah naik 4,8 juta barel dalam pekan yang berakhir 11 Desember menjadi 490,7 juta barel, 110,7 juta barel lebih tinggi dari satu tahun lalu.

Laporan ini juga menunjukkan tingkat yang lebih tinggi dalam persediaan bensin dan bahan bakar distilasi, serta kenaikan di tempat penyimpanan minyak di Cushing, Oklahoma, pusat perdagangan yang dipantau secara luas.

Persediaan di Cushing, Oklahoma, titik pengiriman untuk kontrak AS bertambah 0,6 juta barel menjadi 60,06 juta barel. Sementara produksi minyak mentah AS meningkat 12.000 barel menjadi 9,176 juta barel per hari pekan lalu.

"Dalam hal pergerakan minyak mentah hari ini, benar-benar (karena) laporan yang sangat bearish," kata Matt Smith, analis di ClipperData. "Tidak ada yang memberikan (dorongan) apapun untuk minat membeli."

Harga minyak telah jatuh dari lebih daripada US$100 per barel pada Juli 2014, karena produksi tinggi dari AS dan produsen minyak utama Timur Tengah.

Minyak juga telah tinggal di bawah tekanan dari keputusan oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang menolak melakukan penurunan produksi meskipun harga jatuh.

Seperti yang diperkirakan, Federal Reserve AS pada Rabu mengumumkan kenaikan suku bunga pertamanya sejak 2006, meningkatkan suku bunga acuan federal funds mendekati nol sebesar seperempat poin menjadi 0,25%--0,50%.

Langkah The Fed telah dilihat sebagai cukup "bearish" untuk minyak karena akan meningkatkan greenback, membuat minyak dalam denominasi dolar lebih mahal di pasar internasional.

Ketua The Fed Janet Yellen mengatakan dalam sebuah konferensi pers ia telah terkejut oleh "gerakan turun lebih lanjut dalam harga minyak." Namun, Yellen diproyeksikan harga minyak akan "stabil."

"Ekspektasi pasar adalah untuk stabilisasi, dan kemudian beberapa bertahap bergerak naik," katanya. "Tapi kita tidak mengharapkan mereka kembali ke tingkat lebih tinggi mereka berada, hanya sekedar untuk stabilisasi," demikian AFP melaporkan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Fatkhul Maskur
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper