Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Ini Dia Bisnis Baru Grup Salim

Grup Salim melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. resmi memasuki bisnis kabel serat optik dengan menguasai 71,89% saham PT Mega Akses Persada.
Sukirno
Sukirno - Bisnis.com 24 Juli 2015  |  04:46 WIB
Fiber Optic - Ilustrasi
Fiber Optic - Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA--Grup Salim melalui PT Indoritel Makmur Internasional Tbk. resmi memasuki bisnis kabel serat optik dengan menguasai 71,89% saham PT Mega Akses Persada.

Kiki Yanto Gunawan, Sekretaris Perusahaan Indoritel Makmur Internasional, mengatakan anak usaha perseroan, PT Indoritel Persada Nusantara telah membeli 26.853 saham baru yang diterbitkan oleh MAP, pengembang jaringan serat optik, pada 22 Juli 2015.

"Sehingga perseroan menguasai 71,89% dari seluruh modal saham MAP yang telah disetor penuh," ungkapnya dalam keterbukaan informasi di PT Bursa Efek Indonesia, Kamis (23/7/2015).

Emiten berkode saham DNET yang awalnya bernama Dyviacom Intrabumi dengan kegiatan usaha penyedia jasa layanan Internet itu memang telah beralih haluan dengan masuknya Grup Salim melalui PT Megah Eraraharja. Dyviacom mengubah nama perusahaan dan kegiatan usaha di sektor konsumsi.

Akuisisi MAP dengan merek dagang Fiber Star, membuat Indoritel kembali ke bisnis awalnya, yakni jasa akses Internet. DNET menggelontorkan dana sekitar Rp26,8 miliar untuk menyerap saham baru MAP.

Bersamaan dengan pembelian saham baru tersebut, perseroan juga bakal membeli obligasi konversi wajib dengan nilai nominal maksimum Rp1 triliun yang akan dikeluarkan oleh MAP secara bertahap.

Hingga 2016 perseroan menargetkan sekitar 500.000 pelanggan jaringan fiber optik dengan fokus area di Bandung, Bali, dan Medan. Tidak main-main dengan bisnis baru ini, DNET bersedia menggelontorkan Rp2,8 triliun untuk mengembangkan bisnis serat optik.

Manajemen Indoritel menggelar aksi korporasi berupa penerbitan saham baru melalui mekanisme private placement. Perseroan menerbitkan 1,418 miliar saham baru di harga Rp925 per saham dengan dana yang dikantongi Rp1,31 triliun.

Sekitar 1,1 miliar saham baru diserap oleh Tower Bridge Ventures Ltd., perusahaan pembangkit listrik asal Singapura. Dari Tower Bridge, DNET meraup Rp1,02 triliun. Ditambah dana dari kas internal Rp226 miliar, maka total dana yang sudah siap untuk investasi di bisnis serat optik mencapai Rp1,25 triliun.

Tower Bridge berdomisili di Offshore Incorporation Centre, Road Town, Tortola, British Virgin Islands dengan pemegang saham utama Hou Lili dan Prominent Growth Fund Sp, sebagai penerima manfaat. Calon investor ini juga telah berjanji tidak memperdagangkan saham baru di bursa minimum 1 tahun sejak dicatatkan.

"Investasi di MAP ini merupakan bagian dari rencana strategis perseroan untuk mengembangkan usaha," paparnya.

Transaksi pembelian saham baru MAP dan penyerapan obligasi konversi tidak termasuk sebagai transaksi afiliasi maupun material. Nilai total pembelian obligasi konversi wajib tersebut tidak mencapai 20% dari ekuitas perseroan Rp7,62 triliun per 31 Maret 2015.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

indoritel makmur
Editor : Bastanul Siregar
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top