Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IHSG Sulit Bertahan di 5.000, Buru 5 Saham yang Aktif Diperdagangkan

Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan sulit bertahan di level 5.000, mengingat situasi politik di Tanah Air yang masih penuh ketidakpastian jelang pemilu presiden Juli mendatang.
 Bursa Efek Indonesia/Bisnis.com
Bursa Efek Indonesia/Bisnis.com

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks harga saham gabungan (IHSG) diperkirakan sulit bertahan di level 5.000, mengingat situasi politik di Tanah Air yang masih penuh dengan ketidakpastian jelang pemilu presiden Juli mendatang.

Melalui riset hari ini, analis KDB Daewoo Securities Indonesia menilai perubahan sikap partai Golkar yang mendukung koalisi yang dipimpin Gerindra menyebabkan IHSG turun tajam.

“Hal ini cukup mengejutkan mengingat beberapa laporan pers telah terus-menerus menyinggung partai Golkar yang mendukung koalisi yang dipimpin PDI-P,” ujarnya, Rabu (21/5/2014).

Menurut survei baru-baru ini, koalisi Gerindra dengan dukungan partai Golkar (91 kursi) diketahui telah mengamankan 292 kursi di DPR. Di sisi lain, koalisi PDI-P hanya mengamankan 207 kursi.

Bahkan, dalam skenario koalisi PDI-P telah berhasil merangkul Partai Demokrat (yang masih netral dengan 61 kursi), koalisi PDI-P masih gagal untuk memenangkan kursi mayoritas di parlemen, sehingga menambahkan kekhawatiran bahwa hal itu akan mengarah pada pembentukan pemerintahan yang lemah dengan momentum yang terbatas untuk mendorong reformasi.

“Satu hal yang menarik dari aksi jual kemarin adalah bahwa orang asing masih melakukan net buy di pasar ekuitas Indonesia; Rp 293,7 miliar di pasar reguler. Jika kita masukkan angka dari pasar negosiasi, asing telah melakukan net buy ekuitas Indonesia sebesar Rp 508,4 miliar.”

Di sisi lain domestik melakukan net sell, sehingga cukup mengejutkan karena menunjukkan kepercayaan dari luar lebih kuat daripada kepercayaan dari dalam negeri.

“Dalam pandangan kami, pemilihan Presiden bukanlah pertarungan antara kebaikan dan kejahatan. Inti dari pemilihan musim panas mendatang adalah apakah rakyat Indonesia siap untuk merangkul perubahan.”

Oleh karenanya, net buy dari asing dinilai merupakan refleksi dari keyakinan yang kuat yang berasal dari akan adanya kelancaran transisi pemerintah yang akan mendatangkan reformasi, dan membangun fondasi yang kuat untuk pertumbuhan ekonomi masa depan Indonesia.

Selama empat sesi perdagangan terakhir, rata-rata volume transaksi harian mencapai Rp9,0 trilliun, jauh di atas rata-rata Rp6,2 trilliun year-to-date. Kemudian melihat meningkatnya net buy oleh investor asing (sebagian besar melakukan aksi beli dan tahan), menunjukkan aksi jual oleh domestik baru-baru ini kemungkinan akan mengurangi volatilitas pasar ke depannya.

“Kami masih terus mempertahankan sentimen bullish kami dan merekomendasikan investor untuk mengambil kesempatan ini untuk membeli di harga diskon. Kami menyarankan investor untuk menaruh perhatian pada nama-nama yang diperdagangkan secara aktif di pasar negosiasi,” katanya.

Beberapa saham yang layak dicermati merupakan saham yang menurut kami sensitif terhadap skenario pemulihan ekonomi, di antaranya Semen Indonesia (SMGR IJ) , Bank Negara Indonesia (BBNI IJ), Bank Mandiri (BMRI IJ), Bank Rakyat Indonesia (BBRI IJ), dan Astra International (ASII IJ).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Nurbaiti
Editor : Nurbaiti
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper