Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga minyak naik malu-malu

 
News Editor
News Editor - Bisnis.com 11 November 2011  |  13:05 WIB

 

SINGAPURA: Harga minyak menuju kenaikan mingguan keenam di New York, jangka terpanjang meningkat sejak April 2009. 
 
Hal itu sejalan tanda-tanda adanya pertumbuhan ekonomi AS yang sedikit menepis sentimen negatif dari krisis utang Eropa.
 
Harga minyak mentah sedikit berubah setelah bergeser 0,4%. Harga naik 3,6% dalam seminggu ini. 
 
Kemarin, kabar positif datang dari data Departemen Tenaga Kerja AS yang menunjukkan jumlah orang Amerika yang mengajukan aplikasi untuk tunjangan pengangguran jatuh ke level terendah dalam 7 bulan. 
 
Sementara itu Italia akan mengambil suara hari ini soal langkah-langkah penghematan untuk membersihkan jalan bagi pemerintah baru. 
 
Pemungutan suara itu terjadi di tengah naiknya imbal hasil surat utang Italia ke dekat level tertinggi sejak kelahiran euro. Semakin tinggi imbal hasil, semakin berisiko utang tersebut.
 
Dukungan Teknis
 
"Ada banyak ketidakpastian namun karena kekuatan teknis, pasar dapat mencoba untuk menguji US$100 saja," kata Ken Hasegawa, Manajer Perdagangan komoditas-derivatif Newedge Grup di Tokyo. 
 
Analisis teknis sudah umum digunakan para analis dan pedagang untuk memperkirakan pergerakan harga dan mengambil keputusan beli atau jual.
 
Dia menambahkan bahwa isu-isu Eropa tidak dapat diselesaikan segera dan akan terus berlanjut untuk waktu yang lama.
 
Minyak mentah untuk pengiriman Desember berada di US$97,61 per barel, turun 17 sen, dalam perdagangan elektronik di New York Mercantile Exchange pukul 10:33 waktu Singapura. 
 
Harga kontrak itu kemarin naik US$2,04 atau 2,1% ke US$97,78, penyelesaian tertinggi sejak 26 Juli. Harga naik 6,8% pada 2011.
 
Minyak mentah brent untuk pengiriman Desember di ICE Futures Europe yang berbasis di London menurun 51 sen, atau 0,5% menjadi US$113,20 per barel. 
 
 
Menurut Hasegawa kemajuan harga minyak di atas US$95 minggu ini adalah "titik kunci" yang dapat menentukan apakah minyak berjangka akan diperdagangkan di tiga digit untuk pertama kalinya sejak 26 Juli.
 
 
"Target pertama adalah US$100 dan itu bisa terjadi dalam minggu depan," katanya. "Pada dasarnya, persediaan minyak mentah dunia dan produknya telah menurun—yang juga merupakan faktor dukungan."
 
Data Departemen Energi AS, konsumen minyak terbesar, terjadi penurunan persediaan bahan bakar pekan lalu karena impor turun dan penyulingan dikurangi.
 
Persediaan bensin jatuh ke level terendah sejak Juni 2009 dan stok distilat bahan bakar menurun ke level terendah sejak Desember 2008.
 
Akan tetapi jejak pendapat Bloomberg menujukkan harga minyak mentah bisa turun minggu depan karena krisis utang yang mempengaruhi prospek permintaan di dunia.
 
Sebanyak 19 dari 33 analis dan pedagang, atau 58%, mengatakan minyak akan menurun hingga 18 November. Sepuluh, atau 30%, memproyeksikan kenaikan, dan 4 mengatakan akan ada sedikit perubahan. 
 
Pekan lalu, 61% dari mereka yang disurvei memperkirakan terjadi penurunan dalam minggu ini. (Taufikul Basari/sut)
 

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Sumber : Bloomberg

Editor : Sutarno

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top