Porsi asing di SUN terus turun

 
Yoseph Pencawan - nonaktif
Yoseph Pencawan - nonaktif - Bisnis.com 28 September 2011  |  11:46 WIB

 

JAKARTA: Investor asing tercatat masih terus mengurangi dana investasinya  di portofolio surat utang negara (SUN) yang tercermin dari berkurangnya jumlah kepemilikan asing di surat berharga negara yang dapat diperdagangkan.
 
Berdasarkan data Ditjen Pengelolaan Utang Kementerian Keuangan per 26 September yang dipublikasikan hari ini, jumlah kepemilikan asing turun sebesar Rp28,43 triliun menjadi Rp222,80 triliun dibandingkan dengan posisi 9 September sebesar Rp251,23 triliun.
 
Dibandingkan dengan total jumlah SUN beredar, jumlah tersebut mewakili porsi kepemilikannya sebesar 32,14% atau turun dari porsi kepemilikan per 9 September sebesar 35,69%.
 
Dalam menghadapi pelarian modal asing dari pasar SUN tersebut, pemerintah telah enam kali melakukan transaksi pembelian kembali (buyback) SUN senilai Rp3,24 triliun atau sudah melampaui rencana buyback SUN tahun ini yang dipatok Rp3,07 triliun.
 
Tidak ketinggalan, Otoritas Moneter pun juga melakukan hal sama. Bank Sentral tercatat beberapa kali menggelar lelang buyback SUN. Alhasil, jumlah kepemilikan BI di SUN tercatat naik sebesar Rp6,98 triliun menjadi Rp10,75 triliun pada 26 September dari posisi 16 September yang hanya Rp3,77 triliun.
 
Selain mengalokasikan dana buyback dalam APBNP 2011, pemerintah juga memiliki sumber pendanaan lain yaitu penggunaan dana SAL APBNP 2011 dan Bond Stabilization Fund yang dihimpun dari perusahaan pelat merah.
 
Dirjen Pengelolaan Utang Kemenkeu Rahmat Waluyanto pernah menyatakan pemerintah akan terus memantau pergerakan pasar secara lebih ketat dalam menjaga stabilitas pasar SUN. "Kami sudah siap dengan crisis management protocol dan bond stabilization framework," katanya.
 
Selain itu, lanjut dia, pemerintah juga terus meningkatkan koordinasi dengan Bank Indonesia dan 18 Dealer Utama SUN. "Prinsipnya, jika masih diperlukan, kami akan terus lakukan buyback baik melalui lelang atau pembelian langsung di pasar sekunder," jelas dia.
 
Rahmat meyakini koreksi harga SUN dalam dua pekan terakhir ini hanya bersifat sementara karena tidak ada isu yang bersifat fundamental di dalam negeri. "Pasar SUN selam ini cukup resilient dan pemerintah bersama BI, dan BUMN siap untuk antisipasi sudden reversal," tegas dia. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top