Laba Multibreeder anjlok 81%

 
Yoseph Pencawan - nonaktif
Yoseph Pencawan - nonaktif - Bisnis.com 21 September 2011  |  13:23 WIB

 

JAKARTA:PT Multibreeder Adirama Indonesia Tbk (emiten bidang usaha pembibitan ayam) membukukan laba bersih Rp11,79 miliar pada semester I/2011 atau anjlok 81% dibandingkan dengan kinerja periode yang sama tahun lalu Rp62,23 miliar.
 
Sejalan dengan itu, laba bersih per saham emiten berkode MBAI juga merosot sebesar 81% menjadi Rp157 dibandingkan dengan posisi periode yang sama tahun lalu Rp828.
 
Meski demikian, anak usaha Grup Japfa Comfeed itu membukukan kenaikan penjualan bersih 10,3% menjadi Rp768,10 miliar dibandingkan dengan kinerja semester I/2010 sebesar Rp696,11 miliar.
 
Berdasarkan laporan keuangan per 30 Juni 2011 yang diterbitkan perseroan, hari ini, diketahui merosotnya perolehan laba bersih perseroan sepanjang 6 bulan pertama tahun ini disebabkan oleh naiknya beban pokok penjualan sebesar 18,9% menjadi Rp595,97 miliar dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu Rp501,07 miliar.
 
Selain itu, perseroan juga menanggung kenaikan beban bunga dan kerugian akibat selisih kurs masing-masing Rp16,01 miliar dan Rp156 juta.
 
 Tahun ini, emiten yang 73,39% sahamnya dikuasi oleh PT Japfa Comfeed Tbk itu mengalokasikan dana belanja modal  atau capex (capital expenditure) sebesar Rp450 miliar untuk pembangunan 8 breeding farms baru.
 
Breeding farm adalah pabrik tempat penetasan DOC (day old chick) untuk ayam petelur dan ayam pedaging.
 
Direktur Keuangan Multibreeder Adirama Indonesia Yulius Putut Djagiri sebelumnya menerangkan pembangunan breeding farm baru tersebut akan dilakukan di beberapa wilayah a.l. Jawa, Sumatera, Kalimantan, dan Bali. Kapasitas breeding farm yang sudah ada juga akan ditingkatkan lagi.
 
Selain itu, sebagian dana capex juga akan digunakan untuk membangun hetcheries di Jawa Timur, Singkawang, Bali, dan Jambi. Hingga akhir 2010, total breeding farms yang dimiliki oleh anak usaha PT Japfa Comfeed itu mencapai 39 breeding farms sementara untuk hetcheries sebanyak 17 unit.
 
Menurut Putut, sebagian besar capex akan didanai oleh kas internal sementara sisanya dari pinjaman bank. Tahun lalu, perseroan telah mendapatkan kredit dari Bank CIMB Niaga dengan plafon Rp500 miliar untuk jangka waktu 5 tahun.
 
Dari jumlah tersebut, sebesar Rp250 digunakan untuk melunasi utang kepada BNP Paribas Singapura dan sebesar Rp50 miliar untuk membayar cicilan pertama kepada CIMB Niaga. (sut)
 

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top