Harga sejumlah komoditas menguat

JAKARTA: Harga sejumlah komoditas menanjak, bahkan tembaga mencapai rekor seiring keputusan bank sentral AS untuk melanjutkan stimulus moneternya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.
Yanto Rachmat Iskandar | 09 Desember 2010 06:21 WIB

JAKARTA: Harga sejumlah komoditas menanjak, bahkan tembaga mencapai rekor seiring keputusan bank sentral AS untuk melanjutkan stimulus moneternya untuk mendukung pertumbuhan ekonomi.

Keputusan Federal Reserve AS ini langsung menekan dolar AS dan mendongrak permintaan atas komoditas sebagai alternatif investasi.Indeks harga 19 komoditas UBS Bloomberg CMCI menanjak 0,7% poin menjadi 1.542,27 dan indeks S&P GSCI menanjak 0,4% menjadi 610,31.Harga tembaga menanjak ke rekor tertingginya di London setelah Federal Reserve AS memutuskan untuk membeli kembali aset-aset sebagai bagian dari program stimulus moneter untuk mendukung perekonomian.Untuk kontrak pengiriman tiga bulanan, harga tembaga di London Metal Exchange menanjak 0,6% menjadi US$9.066 per ton, melampaui rekor sebelumnya US$9.044 pada 7 Desember. Harga sudah menanjak 23% tahun ini.Lonjakan harga tembaga ini setelah Presiden AS Barack Obama memperpanjang program pemotongan pajak, sehingga diyakini dapat mendongkrak pertumbuhan ekonomi, serta Pimpinan Federal Reserve Ben S. Bernanke yang memberi indikasi ke pasar untuk melanjutkan pelonggaran kebijakan moneter dengan jumlah lebih besar dari sebelumnya.Keputusan pemerintah AS ini langsung mengangkat obligasi AS dan menekan dolar, sehingga meningkatkan minat investor untuk membeli komoditas.Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu terakhir, kekhawatiran pada kondisi utang zona euro dikesampingkan para investor, dan terfokus pada fundamental ekonomi AS serta suku bunga di tengah sesi perdagangan tipis menjelang libur akhir tahun, kata Analis Riset Valbury Asia Futures Ahim dalam riset hariannya yang diterima Bisnis, hari ini.Analis Riset Harumdana Berjangka Nanang Wahyudin mengatakan faktor lain yang membuat komoditas terangkat yakni dllar terkoreksi setelah data ketenagakerjaan Australia, yang menunjukan lapangan kerja bertambah sebanyak 54.600 bulan lalu, lebih besar dari prediksi 20.000. Sebaliknya, tingkat pengangguran turun ke 5,2% dari 5,4%, sesuai prediksi.Dolar melemah untuk pertama kali dalam empat harinya terhadap keranjang enam mata uang, yakni terdepresiasi 0,4%, sebelum pembuat kebijakan AS melakukan pertemuan pada 14 Desember untuk mendiskusikan rencananya memperpanjang program stimulus moneter senilai lebih dari sebelumnya yang mencapai US$600 miliar.Harga minyak mentah juga menanjak untuk pertama kali dalam tiga hari perdagangan setelah pemerintah AS menunjukkan laporan pasokan yang turun melampaui tiga kali lipat dari perkiraan.Departemen Energi AS melaporkan persediaan minyak mentah turun 3,82 juta barel periode pekan lalu menjadi 355,9 juta. Untuk kontrak pengiriman Januari, harga minyak mentah menanjak 1% menjadi US$89,20 per barel di transaksi elektronik New York Mercantile Exchange. Harga sudah naik 12% tahun ini.Harga emas juga menanjak, untuk pengiriman segera naik 0,4% menjadi US$1.388,05 per ounce, setelah sehari lalu terpangkas 1,4% dari rekor tertingginya pada 7 Desember yakni US$1.431,25. Untuk kontrak pengiriman Februari, harga emas menanjak 0,4% menjadi US$1.388,10 per ounce di Comex New York. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top