United Tractors (UNTR) Revisi Target Penjualan Alat Berat

Emiten konstruksi tambang dan pertambangan PT United Tractors Tbk. memprediksi penjualan alat berat merek Komatsu pada sepanjang tahun ini dapat mencapai 4.800 unit, lebih tinggi dari target yang ditetapkan perseroan sebelumnya yaitu 4.600 unit.
Dara Aziliya | 03 Desember 2018 20:20 WIB
Petugas memeriksa truk di sela-sela serah terima armada terbaru PT United Tractors Tbk. kepada Puninar Group di Jakarta, Senin (28/8). - JIBI/Dwi Prasetya

Bisnis.com, JAKARTA – Emiten konstruksi tambang dan pertambangan PT United Tractors Tbk. memprediksi penjualan alat berat merek Komatsu pada sepanjang tahun ini dapat mencapai 4.800 unit, lebih tinggi dari target yang ditetapkan perseroan sebelumnya yaitu 4.600 unit.

Direktur United Tractors Iwan Hadiantoro menyampaikan penjualan alat berat pada 2018 akan bergantung pada realisasi kedatangan alat berat tersebut dari pihak principle, tetapi dia memprediksi penjualan  menyentuh 4.800 unit.

“Untuk tahun depan kami menargetkan 4.900 unit dengan asumsi batu bara US$90 per ton. Kami sudah melakukan stress test pada pelanggan kami dan sejauh ini kebanyakan dari mereka tetap berinvestasi pada tahun depan,” ungkap Iwan di Jakarta (3/12).

Bisnis.com mencatat penjualan alat berat perseroan pada Januari—Oktober 2018 mencapai 4.181 unit. Volume tersebut meningkat 36,72% dibandingkan dengan penjualan perseroan pada periode sama tahun sebelumnya (yoy) yang sebesar 3.058 unit.

Sementara itu, United Tractors menganggarkan belanja modal sebesar US$800 juta pada tahun depan. Nilai tersebut lebih tinggi dari capex perseroan yang dialokasikan pada 2018 yaitu US$750 juta.

Iwan menyampaikan pada tahun depan perseroan masih menetapkan target konvensional untuk belanja modal mengingat harga batu bara yang cenderung kembali menurun.

“Capex kami [tahun depan] tidak akan berbeda jauh dari tahun ini. Itu masih dengan asumsi cautious karena pergerakan harga batu bara yang akhir-akhir ini turun lagi. Sebagian besar capex tersebut akan digunakan PAMA,” ungkap Iwan.

PT Pamapersada Nusantara atau PAMA merupakan entitas anak perseroan yang melaksanakan bisnis kontraktor penambangan. Pada akhir Oktober lalu, PAMA pun telah mengantongi pinjaman dual-tranche dari total 12 bank dengan tingkat libor sebesar 10%.

Iwan menyampaikan emiten dengan sandi UNTR tersebut meningkatkan belanja modal pada tahun depan karena sejumlah rencana belanja pada tahun ini yang tidak dapat direalisasikan. Dengan harga batu bara yang dalam tren lesu, perseroan memutuskan tidak agresif menetapkan target.

Selain menganggarkan capex untuk PAMA sebesar US$800 juta, perseroan juga akan mengalokasikan dana sebesar US$40 juta—US$50 juta untuk belanja modal pada tambang emas Martabe yang baru saja diakuisisi perseroan.

Menurut Iwan, perseroan akan segera melakukan closing atas transaksi akuisisi tambang Martabe pada bulan ini. Tambang emas yang terletak di Tapanuli Selatan, Sumatra Utara tersebut diprediksi memiliki cadangan sebesar 4,3 juta ton—4,5 juta ton emas.

“Bulan ini akan closing. Kami sudah mendapatkan approval dari Menteri ESDM jadi tinggal kami finalisasi saja. Belanja modal tambang Martabe itu akan kami gunakan untuk pengembangan infrastruktur dan pembelian alat-alat,” ungkap Iwan.

Pada tahun depan, UNTR menargetkan tambang Martabe dapat memproduksi 300.000—350.000 ons emas atau level yang sama dengan tahun ini.

Hingga September 2018, perseroan membukukan pendapatan bersih konsolidasi sebesar Rp61,13 triliun atau meningkat 32% dibandingkan periode sama tahun lalu (yoy) yg sebesar Rp46,26 triliun. Perolehan itu dikontribusikan oleh bisnis mesin konstruksi, kontraktor tambang, pertambangan, dan industri konstruksi masing-masing 35%, 47%, 13%, dan 5%.

Pada periode tersebut, laba setelah pajak yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp9,07 triliun, meningkat 60,89% (yoy)

Tag : united tractors, kinerja emiten
Editor : Riendy Astria

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top