Yen Menguat, Harga Karet Tembah Melorot

Penguatan nilai tukar yen Jepang terus membebani prospek permintaan untuk karet sekaligus menekan harga komoditas tersebut pada perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018).
Renat Sofie Andriani | 27 Agustus 2018 16:17 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Penguatan nilai tukar yen Jepang terus membebani prospek permintaan untuk karet sekaligus menekan harga komoditas tersebut pada perdagangan hari ini, Senin (27/8/2018).

Harga karet untuk pengiriman Januari 2019, kontrak teraktif di Tokyo Commodity Exchange (Tocom), berakhir turun 0,34% atau 0,60 poin di 175,30 yen per kg.

Dengan demikian, harga karet di bursa Tocom telah melemah pada perdagangan hari ketiga berturut-turut. Adapun pada perdagangan Jumat (24/8), harga karet ditutup turun 0,34% atau 0,60 poin di posisi 175,90.

Sementara itu, nilai tukar yen terpantau lanjut menguat 0,13% atau 0,14 poin ke posisi 111,09 per dolar AS pada pukul 14.22 WIB, setelah berakhir terapresiasi 0,05% atau 0,06 poin di level 111,23 pada Jumat (24/8).

Yen menguat untuk hari perdagangan kedua berturut-turut, saat komentar bernada dovish yang keluar dari Gubernur The Federal Reserve membebani pergerakan dolar AS.

Seperti diketahui, Powell mengatakan pendekatan bertahap untuk menaikkan suku bunga adalah yang terbaik untuk melindungi pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan di AS.

Seperti diketahui, penguatan nilai tukar yen Jepang membuat harga komoditas yang diperdagangkan dalam mata uang ini menjadi relatif lebih mahal bagi para pembeli luar negeri. Dampaknya, permintaan akan komoditas ini berpotensi melesu.

Di sisi lain, di Shanghai Futures Exchange, harga karet untuk pengiriman Januari 2019 berhasil ditutup rebound meski dengan kenaikan tipis 0,04% atau 5 poin di 12.510 yuan per ton. Pada perdagangan Jumat (24/8), harga karet di bursa Shanghai berakhir turun 0,28% atau 35 poin di level 12.505.

Menurut Association of Natural Rubber Producing Countries, kondisi cuaca yang tidak mendukung dan harga rendah yang berlaku telah mengakibatkan produksi yang lebih rendah di Malaysia, Vietnam, India, dan Sri Lanka selama 7 bulan pertama 2018.

Meski demikian, produksi karet alami global dilaporkan meningkat 3,7% (y/y) menjadi 7,372 juta ton selama periode yang sama.

Dilansir dari Bloomberg, sentimen pasar sebagian besar didominasi oleh kekhawatiran atas memburuknya perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China, ditambah dengan kenaikan lebih lanjut atas jumlah persediaan di gudang yang ditunjuk bursa Shanghai.

Pergerakan Harga Karet Kontrak Januari 2019 di Tocom

Tanggal

Harga (Yen/Kg)

Perubahan

27/8/2018

175,30

-0,34%

24/8/2018

175,90

-0,34%

23/8/2018

176,50

-1,29%

Sumber: Bloomberg

Tag : harga karet
Editor : Mia Chitra Dinisari

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya

Top