Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

GOTO Dikabarkan Merger dengan Grab, Bagaimana Prospeknya?

Analis melihat rencana merger GOTO dan Grab akan membuat GOTO memiliki prospek yang positif, akan tetapi berpotensi membuat monopoli.
Antrean driver ojek online membeli menu BTS meal di gerai McD atau McDonalds di Jl Slamet Riyadi, Solo, Rabu (9/6/2021). JIBI/Solopos-Ichsan Kholif Rahmanrnrn
Antrean driver ojek online membeli menu BTS meal di gerai McD atau McDonalds di Jl Slamet Riyadi, Solo, Rabu (9/6/2021). JIBI/Solopos-Ichsan Kholif Rahmanrnrn

Bisnis.com, JAKARTA -- PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk. (GOTO) dikabarkan tengah dalam pembicaraan untuk melakukan penggabungan usaha atau merger dengan Grab Holdings Ltd. Lalu, bagaimana prospek GOTO apabila merger ini terlaksana?

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Vicky Rosalinda mengatakan apabila rencana merger GOTO dengan Grab terjadi, maka hal ini akan memiliki prospek yang positif bagi GOTO. GOTO dapat menurunkan biaya oprasionalnya yang saat ini masih tinggi.

"Sehingga GOTO memiliki peluang untuk memperoleh laba," kata Vicky, dihubungi Senin (12/2/2024).

Selain itu, lanjutnya, merger ini membuka peluang peningkatan margin dan nilai tambah bisnis GOTO secara keseluruhan. Vicky juga menilai merger ini akan membuka pengembangan layanan baru yang inovatif dan menarik bagi konsumen. 

Meski demikian, kata Vicky, terdapat sentimen negatif yang menanti merger ini. Vicky menuturkan merger GOTO dan Grab memiliki potensi melakukan monopoli pangsa pasar Indonesia, karena GOTO akan memiliki potensi kinerja yang bertumbuh sehingga dapat terjadinya monopoli di sektor teknologi. 

"Selain itu ketidakpastian regulasi di bidang teknologi dan e-commerce di Asia Tenggara masih berkembang. Hal ini dapat menimbulkan ketidakpastian bagi GOTO dan Grab," ujarnya.

Melansir pemberitaan Bisnis sebelumnya, sumber Bloomberg menyebutkan merger GOTO dan Grab masih berada dalam tahap diskusi awal. Grab yang berbasis di Singapura disebut akan mengakuisisi GoTo menggunakan uang tunai, saham, atau kombinasi keduanya. 

Sumber yang sama menyebutkan, opsi ini terbuka seiring beralihnya tampuk pemimpin perusahaan ke Patrick Walujo yang kini menjadi CEO setelah sebelumnya hanya sebagai investor.

Para pemegang saham kedua perusahaan juga mendukung kesepakatan tersebut dan mendorong perundingan tersebut bergerak hingga menjadi aksi korporasi. Meski demikian, karena masih bersifat awal, disebutkan perundingan tersebut juga mungkin tidak mengarah pada merger atau kesepakatan apa pun.

----------------

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper