Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Kas Berlimpah, Grab Percepat Pembayaran Utang Rp9,2 Triliun

Grab mencatat kas bersih sebesar US$5,1 miliar pada akhir Desember 2022, yang dimanfaatkan untuk mempercepat pembayaran utang.
Mitra pengemudi Grab di Vietnam./Bloomberg
Mitra pengemudi Grab di Vietnam./Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Grab Holdings Ltd. mempercepat pelunasan utang senilai US$600 juta setara Rp9,21 triliun yang jatuh tempo pada 2026. Perusahaan teknologi ini memanfaatkan kelebihan uang tunai di neraca keuangan.

Perusahaan ride-hailing dan pengiriman yang berbasis di Singapura ini menyelesaikan transaksi minggu lalu, alhasil posisi utang di bawah pinjaman berjangka turun menjadi US$517 juta, dari saldo sebelumnya sebesar US$1,117 miliar. Grab juga memiliki utang bank lain sekitar US$200 juta.

“Grab memanfaatkan posisi kas kami yang sehat untuk mengurangi saldo utang dan menghasilkan penghematan bunga, mengingat lingkungan ekonomi makro,” kata Chief Financial Officer Grab Peter Oey, mengutip Bloomberg, Selasa (7/3/2023).

Sebelumnya, Grab pada November 2022 membeli kembali utang sekitar US$750 juta, bagian dari pinjaman berjangka B senilai US$2 miliar, menggunakan skema penawaran tender lelang Belanda. Skema ini merupakan sebuah format di mana juru lelang menetapkan harga pembukaan yang menurun hingga penawaran dibuat.

"Lelang itu memungkinkan perusahaan untuk membeli kembali utang dengan rata-rata 98,4 sen dolar,” kata Oey.

Menurut Oey, biaya modal menjadi sangat mahal lantaran kenaikan suku bunga baru-baru ini oleh Federal Reserve dan bank sentral lainnya. Grab belum lama ini juga melakukan lindung nilai atau hedging senilai US$500 juta dengan batas suku bunga yang memberi perusahaan perlindungan penuh terhadap perubahan suku bunga dalam kisaran tertentu.

Grab yang sahamnya tercatat di Nasdaq ini juga bersiap untuk menghadapi kenaikan suku bunga pada pertemuan Fed berikutnya akhir bulan ini.“Setiap bulan lewat, suku bunga bisa naik,” kata Oey.

Perusahaan menolak untuk mengomentari berapa jumlah utang yang ideal.

“Saat ini, kami tidak memiliki rencana untuk pembelian kembali utang atau pembayaran di muka lebih lanjut,” kata Oey. Dia menambahkan Grab akan terus memantau biaya modal. Perusahaan tidak memiliki obligasi yang beredar.

Grab selama pemaparan kinerja di hadapan investor pada Februari lalu mengatakan akan memajukan targetnya mencapai titik impas (break event poin) hingga kuartal IV/2023, dari target sebelumnya pada semester II/2024.

Oey menerangkan sejumlah startegi dijalankan untuk mengejar target tersebut, seperti mengendalikan pengeluaran, mengurangi jumlah karyawan di fungsi perusahaan regional tertentu dan meningkatkan efisiensi operasional.

Grab menargetkan kerugian untuk laba yang disesuaikan sebelum bunga, pajak, depresiasi, dan amortisasi antara US$275 juta dan US$325 juta pada 2023, dibandingkan dengan kerugian EBITDA yang disesuaikan sebesar US$793 juta pada 2022.

Grab tercatat membukukan kerugian untuk 2022 sebesar US$1,74 miliar, turun dari US$3,55 miliar pada akhir tahun 2021.

Kas Jumbo

Grab mencatat kas bersih sebesar US$5,1 miliar setara Rp78,36 triliun pada akhir Desember 2022. Menurut Oey, kas tersebut cukup untuk menutupi segala kebutuhan pendanaan perseroan.

Nathan Naidu, analis Bloomberg Intelligence, menulis dalam email bahwa membayar lebih banyak pinjaman berjangka suku bunga mengambang akan membantu Grab mengurangi volatilitas arus kas, yang penting pada saat suku bunga naik.

“Langkah Grab menunjukkan adanya kelebihan dana dan membayar pinjaman berjangka akan menghemat biaya bunga, yang akan membantu mempercepat jalan menuju profitabilitas dengan menghemat biaya,” kata Angus Mackintosh, analis Smartkarma.

Adapun beberapa rekan perusahaan teknologi lain melakukan yang sebaliknya, kata Mackintosh, untuk memperkuat dana likuid perusahaan. Semisal, Uber Technologies Inc. pada pekan lalu mengatakan telah meminjam US$1,75 miliar berdasarkan perjanjian pinjaman berjangka.

Investor tidak hanya menghargai upaya pengurangan utang, tetapi juga perusahaan yang mengelola modalnya secara efisien, “Jika perusahaan membayar bunga yang relatif tinggi pada instrumen utang yang melebihi persyaratan, maka mengurangi paparan atas utang tersebut masuk akal dari perspektif penghematan biaya,” katanya Mackinstosh.

Grab kemungkinan akan mencapai break even point bahkan dalam ekonomi yang melambat, kata analis, karena mengurangi jumlah insentif yang digunakan untuk menarik pelanggan. Perusahaan juga mendapat manfaat dari rebound baru-baru ini dalam permintaan untuk jasa perjalanan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Penulis : Farid Firdaus
Editor : Farid Firdaus
Sumber : Bloomberg
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper