Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Jauh dari Jurang Resesi, Sektor Saham Ini Masuk Pantauan

Sektor manufaktur, komoditas, dan finansial masih bisa menjadi pilihan investasi tahun depan.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 25 November 2022  |  14:00 WIB
Jauh dari Jurang Resesi, Sektor Saham Ini Masuk Pantauan
Pegawai mengamati layar yang menampilkan pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Kamis (27/10/2022). Bisnis - Himawan L Nugraha
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Sejumlah sektor potensial jadi sasaran investasi pada 2023 melihat pertumbuhan ekonomi Indonesia yang diperkirakan masih stabil.

Kepala Ekonom BCA David Sumual mengatakan sektor yang potensial tahun depan di antaranya terkat manufaktur.

“Bahan baku yang mereka impor setengah jadi tuh banyakmereka datangkan dari luar. Substitusi impor perlu dilakukan untuk sektor-sektor yang bisa dihilirisasi. Itu perlu dilakukan terus menerus,” ujarnya kepada Bisnis, Kamis (24/11/2022).

Selain itu, sektor consumer goods dan chemical juga potensial, karena pasar domestik Indonesia yang besar. Adapun, sektor yang terkait dengan komoditas juga masih menarik memasuki kuartal II/2023 kemungkinan harganya masih tinggi.

“Properti juga menarik dan mungkin mulai pulih juga, untuk beberapa segmen tertentu masih menarik walaupun tren suku bunga mungkin meningkat, tapi di beberapa siklus sebelumnya ketika tren suku bunga nak justru pertumbuhan kredit masih meningkat, karena orang antisipasi kenaikan suku bunga yang lebih tinggi,” imbuhnya.

David menilai awal tahun depan dan akhir tahun ini masih cukup bagus untuk sektor properti, terlebih daya beli masyarakat masih tinggi dan sekarang belum banyak perusahaan yang menaikkan suku bunga dan jika naik pun tidak banyak.

Selain itu, Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji Gusta memberikan rating overweight untuk sektor finansial, tambang logam, batu bara, minyak dan gas, dan media.

“Tantangan di pasar modal saya pikir bisa berhubungan dengan infrastruktur di pasar modal karena kita masih negara berkembang, kita harus memperkuat infrastruktur di pasar modal tanah air. Selain itu, dari sisi jumlah pemodal, investor, traders, masih bisa dioptimalkan,” kata Nafan.

Untuk mendongkrak investasi ke depan, sosialisasi dan edukasi tidak boleh berhenti. Upaya ini juga bertujuan meningkatkan literasi di pasar modal Tanah Air. 

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham Resesi manufaktur
Editor : Pandu Gumilar
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top