Cari berita
Bisnis.com

Konten Premium

Bisnis Plus bisnismuda Koran Bisnis Indonesia tokotbisnis Epaper Bisnis Indonesia Konten Interaktif Bisnis Indonesia Group Bisnis Grafik bisnis tv

Prospek Permintaan Suram, Harga Minyak Dunia Turun Lagi

Harga kontrak berjangka minyak WTI tercatat anjlok menuju level US$85 per barel setelah melemah 3,5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 15 November 2022  |  12:16 WIB
Prospek Permintaan Suram, Harga Minyak Dunia Turun Lagi
Aktivitas Pertamina Hulu Energi Offshore Southeast Sumatra (PHE OSES) di Perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, Selasa (14/6/2022) - Pertamina.
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Harga minyak dunia melanjutkan pelemahannya seiring dengan kekhawatiran pasar terhadap prospek permintaan jangka pendek yang menutupi sentimen tanda–tanda pengetatan pasokan menjelang musim dingin.

Berdasarkan data Bloomberg pada Selasa (15/11/2022), pada 12.00 WIB, harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Desember melemah 0,61 persen ke US$85,35 per barel. Sementara itu, harga minyak Brent untuk pengiriman Januari turun 0,30 persen ke US$92,86 per barel.

Harga kontrak berjangka minyak WTI tercatat anjlok menuju level US$85 per barel setelah melemah 3,5 persen pada sesi perdagangan sebelumnya. OPEC juga telah kembali memangkas proyeksi permintaan globalnya pada kuartal IV/20222.

Harga minyak dunia telah kehilangan sepertiga nilai kenaikannya sejak awal Juni 2022 seiring dengan perlambatan ekonomi yang membebani tingkat permintaan. Meski demikian, pemangkasan outlook dari OPEC serta sanksi Uni Eropa terhadap Rusia juga berpotensi mengurangi pasokan global.

Sementara itu, perusahaan di AS membuka lebih sedikit sumur minyak dibandingkan aksi pengeboran untuk pertama kalinya dalam 2 tahun. Hal ini mengindikasikan adanya potensi perlambatan produksi.

Adapun, perekonomian China melambat pada Oktober seiring dengan penyebaran virus corona yang mengganggu sentimen konsumen dan kegiatan ekonomi. Jumlah infeksi di China tercatat terus meningkat meski pemerintah setempat telah melakukan pelonggaran lockdown.

“Data ekonomi China yang lemah hanya memperkuat sentimen bahwa permintaan dari negara tersebut akan tetap terganggu selama kebijakan ketat pengendalian virus corona tetap berlaku,” jelas Founder Vanda Insights, Vandana Hari.

Wakil Gubernur The Fed Lael Brainard mengatakan perlambatan kenaikan suku bunga acuan AS sudah di depan mata, meski ia menyatakan masih ada sejumlah pekerjaan yang perlu dilakukan untuk mengendalikan inflasi.

Pernyataan Brainard, serta pengetatan kebijakan moneter dari bank sentral lain di dunia, masih membebani prospek permintaan serta membuat pelaku pasar waspada.

Sementara itu, International Energy Agency (IEA) akan merilis data indikator pasarnya, termasuk China, pada hari Selasa waktu setempat.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga minyak mentah wti harga minyak brent harga minyak mentah china
Editor : Farid Firdaus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top