Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Apple Diprediksi Melambat, Efek Krisis Ekonomi

Tidak seperti tahun lalu, pertumbuhan pendapatan Apple pada periode kuartal per akhir Juni 2022 diproyeksi hanya single digit.
Herdanang Ahmad Fauzan
Herdanang Ahmad Fauzan - Bisnis.com 24 Juli 2022  |  23:02 WIB
Pertumbuhan Apple Diprediksi Melambat, Efek Krisis Ekonomi
Ilustrasi iPad Air (2022) generasi kelima yang rilis tahun ini. Pertumbuhan kinerja Apple per pelaporan kuartalan akhir Juni 2022 diproyeksi melambat. / Dok.Apple
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA - Hingga separuh tahun 2022 lewat, raksasa teknologi Apple Inc. cenderung membukukan kinerja lebih baik ketimbang kompetitor. Namun, dampak krisis ekonomi global terhadap produsen iPhone dan Mac tersebut diprediksi hanya tinggal menunggu waktu.

Apple dijadwalkan akan merilis kinerja kuartalan ketiga per akhir Juni 2022, pekan depan. Dan, menurut konsensus analis Bloomberg, pertumbuhan pendapatan kuartalan perusahaan rintisan Bill Gates tersebut cuma diprediksi pada kisaran 2 persen.

Angka pertumbuhan tersebut terbilang rendah untuk perusahaan sekelas Apple. Sebagai pembanding, pada periode kuartalan yang sama tahun lalu, Apple mampu membukukan pertumbuhan top line hingga 36 persen.

Estimasi analis berada pada kisaran US$82,7 miliar. Hampir separuh dari total pendapatan ini diperkirakan datang dari penjualan iPhone sementara segmen layanan perangkat lunak Apple diprediksi berkontribusi sekitar US$20 miliar.

"Semakin berhati-hatinya pengeluaran konsumer terutama di AS, dan kondisi pembukaan ekonomi di China akan menjadi dua faktor terbesar yang menentukan kinerja Apple," ujar analis Morgan Stanley Katy Huberty dalam risetnya, dikutip Minggu (24/7).

Pada konferensi pers perilisan kinerja, Apple juga diekspektasikan bakal mengumumkan kebijakan penurunan perekrutan tenaga kerja. Langkah yang akan mengikuti jejak raksasa teknologi lain seperti Google dan Meta.

Apple bukannya tidak punya senjata. Meski diumumkan pada periode kuartal ketiga tahun buku yang berakhir Juni, perusahaan baru  benar-benar menjual lini produk Macbook terbarunya pada Juni ini.

Jika produk tersebut laku di pasaran, Apple berpotensi mendapat katalis pendongkrak pada kuartal berikutnya.

Namun, analis belum sepenuhnya yakin dengan potensi tersebut. Ini mengingat Apple mematok selisih harga yang terlampau besar dibandingkan varian Macbook terakhir (M1) yang rilis sejak 2020 lalu.

Kekhawatiran ini kemudian membuat Morgan Stanley dan Wells Fargo kompak memangkas target harga untuk saham Apple hingga US$10 lebih rendah dari proyeksi sebelumnya. Meskipun, dengan banderol yang sudah terdiskon, mereka tetap mempertahankan pandangan buy.

Hingga akhir perdagangan pekan lalu, saham Apple yang memiliki ticker AAPL ditransaksikan seharga US$154,09 per saham. Mahar ini merefleksikan penurunan 15 persen lebih secara tahun berjalan alias year-to-date (ytd).

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

apple krisis ekonomi teknologi Resesi ekonomi global iphone ipad Macbook
Editor : Herdanang Ahmad Fauzan
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top