Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Lo Kheng Hong Pernah Kehilangan Aset hingga 85 Persen di Pasar Saham, Ini Tipsnya agar Tidak Stres

Lo Kheng Hong mengakui pernah kehilangan uang atau asetnya hingga 85 persen di bursa saham karena krisis ekonomi tahun 1997-1998.
Layar menampilkan Investor senior Lo Kheng Hong memberikan pemaparan dalam Bisnis Indonesia Business Challenges 2022 di Jakarta, Rabu (15/12/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Layar menampilkan Investor senior Lo Kheng Hong memberikan pemaparan dalam Bisnis Indonesia Business Challenges 2022 di Jakarta, Rabu (15/12/2021). Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Investor kawakan Lo Kheng Hong pernah mengalami kerugian saat berinvestasi di pasar saham. Bahkan, investasi Lo Kheng Hong pernah menguap hingga 85 persen.

Berbicara dalam Podcast Hermanto Tanoko, investor yang akrab disapa Pak Lo ini menuturkan, uangnya pernah hilang 85 persen karena krisis ekonomi tahun 1997-1998. Menurut Pak Lo, krisis tersebut membuat harga-harga saham turun tajam.

"Krisis 1997-1998, cukup berat. Selain krisis politik, suku bunga 70 persen, ada kerusuhan, saham juga turun tajam. Uang saya hilang 85 persen," kata Pak Lo dalam Podcast Hermanto Tanoko, dikutip Rabu (1/6/2022).

Meurut pengakuannya, saat itu dia sudah tidak bekerja lagi, dengan istri yang seorang ibu rumah tangga. Sisa uang yang dimilikinya hanya 15 persen.

Namun, Lo Kheng Hong atau LKH mengakui, ketika dirinya kehilangan uang banyak, dia tidak merasa stres dan sedih. LKH menuturkan tidak berfokus pada uangnya yang hilang, tetapi fokus ke uang yang tersisa.

"Saya punya rumah, enggak punya utang, uang masih ada sisa 15 persen, disyukuri saja. Tapi akhirnya ketika saya membeli saham kembali saya dapat saham wonderful company, yang dijual di harga bajaj waktu itu, PT United Tractors Tbk. (UNTR)," ujar LKH.

LKH membeli saham UNTR pada harga Rp250 dan saya menyimpannya selama enam tahun. Saham UNTR tersebut akhirnya dijual kembali pada harga Rp15.000.

Dia melanjutkan, dirinya fokus berinvestasi pada saham UNTR dan tidak melakukan diversifikasi. LKH beralasan, dirinya tidak melakukan diversifikasi karena harga saham UNTR pada Rp250, sedangkan laba usaha per sahamnya berada pada angka Rp7.800.

"Ini mercy harga bajaj, jadi tidak bisa diversifikasi yang lain. Saya hanya put all eggs in one basket (menaruh semua telur dalam satu keranjang)," ucap Lo Kheng Hong.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper