Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Pantau Harga Minyak, Wall Street Terkulai di Zona Merah

Indeks S&P 500 melemah 0,07 persen ke level 4.599,25 pada awal perdagangan, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,33 persen ke level 35.113,39. Di sisi lain, indeks Nasdaq 100 menguat tipis 0,01 persen ke level 15.075,9.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 31 Maret 2022  |  21:57 WIB
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat melemah pada awal perdagangan Kamis (31/3/2022) karena investor mempertimbangkan penurunan harga minyak mentah karena pemerintahan Biden berencana melepas cadangan minyak AS secara besar-besaran ke pasar untuk melawan inflasi.

Dilansir Bloomberg, indeks S&P 500 melemah 0,07 persen ke level 4.599,25 pada awal perdagangan, sedangkan indeks Dow Jones Industrial Average terkoreksi 0,33 persen ke level 35.113,39. Di sisi lain, indeks Nasdaq 100 menguat 0,01 persen ke level 15.075,9.

Laporan bahwa Washington tengah mempersiapkan rencana untuk melepaskan sekitar satu juta barel minyak per hari membuat harga minyak mentah berbalik melemah pertemuan pasokan OPEC. Sementara itu, pengeluaran yang disesuaikan dengan inflasi AS turun bulan lalu karena harga menekan permintaan.

Saham perusahaan minyak termasuk Exxon Mobil Corp dan Occidental Petroleum Corp turun. Harga minyak West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Mei 2022 terpantau melemah 3,86 persen ke US$103,66 per barel pada pukul 21.40 WIB. Sementara itu, minyak Brent juga melemah 4,33 persen ke level US$108,54 per barel.

Bursa saham global diperkirakan mencatat kuartal terburuk dalam dua tahun terakhir di tengah kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan, dengan perang di Ukraina mendorong volatilitas di pasar komoditas di tengah prospek pengurangan stimulus bank sentral yang lebih agresif.

Proyeksi bahwa Federal Reserve akan menaikkan suku bunga sebesar 50 basis poi pada pertemuan kebijakan Mei semakin meningkat. Sementara itu, klaim pengangguran AS naik lebih dari perkiraan pada pekan lalu.

“Selain pertimbangan kuartal akhir, minyak sangat menjadi pusat perhatian,” ungkap kepala ekonom First Abu Dhabi Bank, Simon Ballard, dikutip Bloomberg, Kamis (31/3/2022).

“Namun, factor utama tertahannya volatilitas pasar masih bertahan, termasuk momok The Fed yang mengejar jalur agresif normalisasi kebijakan moneter selama beberapa bulan mendatang," lanjutnya.

Penurunan indeks S&P 500 pada hari Kamis akan menandai hari penurunan indeks ke-35 tahun ini, yang akan menjadi jumlah penurunan kuartal pertama terbesar sejak 1984, menurut data yang dikumpulkan oleh Bloomberg.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street minyak mentah
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top