Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Gerak Saham Teknologi dan Perbankan Digital Berbeda Arah, Ini Penjelasan Analis

Saham emiten teknologi dan perbankan digital berbeda arah, antara lain disebabkan kenaikan suku bunga The Fed.
Dewi Fadhilah Soemanagara
Dewi Fadhilah Soemanagara - Bisnis.com 30 Maret 2022  |  12:43 WIB
Pengunjung berada didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3). Pada penutupan perdagangan hari ini  Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG)  ditutup positif. IHSG berhasil berbalik dari zona merah dan ditutup menguat 11,8 poin (0,2%) ke level 4.907.57. Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sore ini kembali ke level Rp 14.800. - Dedi Gunawan
Pengunjung berada didekat papan elektronik yang menampilkan perdagangan harga saham di lantai Bursa Efek Indonesia di Jakarta, Jumat (13/3). Pada penutupan perdagangan hari ini Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup positif. IHSG berhasil berbalik dari zona merah dan ditutup menguat 11,8 poin (0,2%) ke level 4.907.57. Sementara nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) terhadap rupiah sore ini kembali ke level Rp 14.800. - Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Indeks saham emiten teknologi dan perbankan digital menunjukkan arah pergerakan yang berbeda akibat kenaikan suku bunga Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed).

Analis Fundamental Kanaka Hita Solvera (KHS) Raditya Pradana menilai, di tahun 2022 ini emiten teknologi dan finance terimbas dampak berkebalikan karena efek kebijakan rencana kenaikan suku bunga The Fed.

“Untuk kedua indeks tersebut (IDX Techno & IDX Finance) menurut kami tahun ini memiliki dampak yang berkebalikan, karena efek kebijakan rencana kenaikan suku bunga,” ujar Raditya kepada Bisnis, Selasa (29/3/2022).

The Fed sudah mulai meningkatkan suku bunga acuan pada Maret 2021, namun Bank Indonesia masih berusaha menahan suku bunga karena inflasi Indonesia juga masih terjaga.

Menurut Raditya, tidak tertutup kemungkinan Bank Indonesia akan menaikkan suku bunga ke depannya.

“Namun menurut kami, Bank Indonesia juga akan mulai menaikkan suku bunga di semester II nanti,” ucapnya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan jika terjadi kenaikan suku bunga, maka akan berdampak signifikan terhadap indeks emiten teknologi di pasar bursa.

Kenaikan suku bunga tersebut akan menjadi katalis negatif bagi saham-saham teknologi karena rata-rata nilai debt to equity ratio (DER) yang tinggi, sehingga beban bunga emiten pun meningkat.

Sebaliknya, bagi emiten perbankan digital dalam indeks finansial justru menjadi katalis positif.

“Kenaikan suku bunga akan turut meningkatkan suku bunga kredit dan deposito, sehingga berpotensi melipatgandakan pendapatan dan laba perbankan,” imbuh Raditya.

Pada pembukaan perdagangan hari ini, Rabu (30/3/2022) indeks sektor teknologi menghijau 0,35 persen, atau naik sebesar 28,5 poin ke posisi 8.235.

Sedangkan sektor finansial yang melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) tercatat juga mengalami peningkatan 12 poin atau setara 0,70 persen ke posisi 1.623.

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

saham teknologi perbankan Kebijakan The Fed
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top