Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Investor Pantau Pidato Powell, Wall Street Rebound di Awal Perdagangan

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,71 persen kelevel 33.530,46, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,5 persen ke 4.327,92. Di sisi lain indeks Nasdaq melemah 0,1 persen.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 02 Maret 2022  |  22:23 WIB
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg
Seorang pelaku pasar tengah memantau pergerakan harga saham di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, Amerika Serikat. - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat menguat pada awal perdagangan Rabu (2/3/2022) karena investor mempertimbangkan perkembangan geopolitik terbaru dan komentar dari Gubernur The Fed Jerome Powell mengenai rencana kebijakan bank sentral.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average menguat 0,71 persen kelevel 33.530,46, sedangkan indeks S&P 500 naik 0,5 persen ke 4.327,92. Di sisi lain indeks Nasdaq melemah 0,1 persen.

Sektor energi dan finansial memimpin penguatan indeks S&P 500. Sementara itu, imbal hasil obligasi Treasury AS 10 tahun menghentikan penurunan empat hari berturut-turut. Pasar komoditas melonjak ke level tertinggi karena pelaku pasar mempertimbangkan ketegangan perang Ukraina dari Rusia. Hal ini memicu kekhawatiran bahwa pasokan komoditas akan berkurang, mulai dari gandum hingga gas alam.

Aluminium mencapai rekor baru dan gandum naik ke level tertinggi sejak 2008. Di Eropa, harga gas alam dan batu bara mencapai level tertinggi sepanjang masa.

Kepala investasi UBS Global Wealth Management Mark Haefele mengatakan terlepas dari risikonya, lonjakan harga energi yang berkelanjutan yang mengarah ke resesi bukanlah yang menjadi fokus kali ini.

"Kami menyarankan investor untuk mempertimbangkan lindung nilai terhadap krisis, daripada keluar dari aset berisiko," ungkap Mark, dilansir Bloomberg, Rabu (2/3/2022).

Sementara itu, Gubernur The Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral akan meningkatkan suku bunga pada bulan Maret, namun mengingatkan bahwa serangan Rusia ke Ukraina telah menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi AS.

"Dengan inflasi jauh di atas 2 persen dan pasar tenaga kerja yang kuat, kami berharap akan tepat untuk menaikkan kisaran target suku bunga pada pertemuan kami akhir bulan ini," kata Powell.

Powell akan berpidato di hadapan Komite Jasa Keuangan DPR AS pada pukul 10 pagi di Washington.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street Perang Rusia Ukraina
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

To top