Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Masuk Pekan Kedua, Penjualan ORI021 Nyaris Capai Rp13,5 Triliun

ORI021 masih diminati masyarakat. Dengan kupon sebesar 4,9 persen, ORI021 masih cukup menarik dikoleksi investor ritel mengingat suku bunga acuan yang rendah.
Ika Fatma Ramadhansari
Ika Fatma Ramadhansari - Bisnis.com 03 Februari 2022  |  16:11 WIB
Masuk Pekan Kedua, Penjualan ORI021 Nyaris Capai Rp13,5 Triliun
ilustrasi obligasi
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA – Setelah melewati kuota yang ditetapkan dalam sehari masa penawaran, pemesanan obligasi negara ritel (ORI) seri ORI021 saat ini tercatat menyentuh hampir Rp13,50 triliun dalam pekan kedua masa penawaran.

Berdasarkan data yang dilansir dari salah satu mitra distribusi daring Kamis (3/2/2022) sekitar pukul 15.00, total penjualan ORI021 telah menyentuh Rp13,49 triliun. Di mana kuota pemesanan tercantum Rp3,51 triliun dari target Rp17 triliun.

Adapun, masa penawaran dibuka hingga 17 Februari 2022 mendatang. Dengan kata lain, penawaran seri masih tersisa 14 hari alias dua pekan.

Sebelumnya, Head of Fixed Income Research Mandiri Sekuritas Handy Yunianto menyebutkan, instrumen SBN ritel seperti ORI021 masih akan dicari oleh masyarakat. Menurutnya, dengan kupon sebesar 4,9 persen, ORI021 masih cukup menarik dikoleksi investor ritel mengingat suku bunga acuan yang rendah.

Instrumen ritel dinilai selalu menarik karena perbandingannya dengan suku bunga deposito yang trendnya akan tetap rendah seiring dengan likuditas perbankan yang masih melimpah.

Ia menjelaskan, ORI sebelumnya ditawarkan dengan kupon 4,95 persen mengingat kondisi suku bunga penjaminan LPS masih 4 persen dan suku bunga deposito sebesar 3,4 persen. Sementara itu, suku bunga penjaminan LPS kini menurun menjadi 3,5 persen dan suku bunga deposito berada di kisaran 3 persen.

“Dari sisi bottom line, kupon 4,9 persen masih sangat menarik untuk investor ritel,” jelasnya.

Selain itu, dengan tenor ORI yang pendek, investor ritel juga bisa memitigasi risiko penurunan harga obligasi lebih besar. Hal tersebut dapat terjadi bila nantinya Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga acuan.

Hal senada juga disampaikan Chief Economist Bank Permata Josua Pardede yang menuturkan, penerbitan ORI021 diperkirakan cenderung dibayangi oleh sentimen hawkish dari The Fed, terutama bila data inflasi di minggu ini mengalami kenaikan.

Ia menjelaskan. dibandingkan dengan seri ritel lainnya, seri ORI cenderung terdampak sentimen global seiring dengan sifatnya yang dapat diperdagangkan (tradeable).

“Hal ini dapat memicu ketertarikan investor untuk melakukan transaksi jual beli seri ini,” jelasnya saat dihubungi, Senin (10/1/2022).

Selain dari sisi sentimen pasar keuangan, permintaan akan obligasi ritel dipengaruhi oleh solidnya kepercayaan konsumen kelas menengah atas akibat pemulihan ekonomi domestik.

Pada bulan Desember lalu, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) masyarakat berpendapatan ke atas berada pada level 124,1, sedikit lebih rendah dibandingkan dengan bulan sebelumnya sebesar 124,9.

Tingginya keyakinan konsumen menengah ke atas mengindikasikan bahwa disposable income dari masyarakat belum terganggu, sehingga diperkirakan masyarakat masih tertarik pada investasi SBN.

Sebagai informasi, pemerintah melalui Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kementerian Keuangan mengumumkan kupon atau imbal hasil ORI021 sebesar 4,9 persen per tahun.

Di mana kupon yang ditawarkan pada ORI021 lebih rendah dibanding seri sebelumnya ORI020 sebesar 4,95 persen. Kupon ORI021 juga akan menjadi yang terendah dibandingkan penawaran seri ORI terdahulu.

Jenis kupon ORI021 adalah tetap (fixed rate) dan memiliki tenor 3 tahun. ORI021 dapat diperdagangkan kembali (tradeable) di pasar sekunder sebelum jatuh tempo 3 tahun.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

surat berharga negara obligasi ritel indonesia ORI021
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top