Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

IDX Consumer Non-Cyclicals Berpeluang Catatkan Kinerja Positif

IDX Sector Consumer Non-Cyclicals terkoreksi lebih dalam dari IHSG, tetapi masih berpotensi rebound.
Indomie/Ilustrasi-indofood.com
Indomie/Ilustrasi-indofood.com

Bisnis.com, JAKARTA – Analis mengungkapkan bahwa IDX Sector Consumer Non-Cyclicals pada tahun ini masih berpeluang catatkan kinerja positif meski hingga saat ini masih catatkan kinerja negatif.

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI) per Selasa (25/1/2022), menunjukkan IDX Sector Consumer Non-Cyclicals terkoreksi 1,37 persen year-to-date (ytd). Lebih lemah jika dibandingkan dengan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang tercatat melemah 0,20 persen ytd.

Melemahnya indeks sektor barang konsumen primer tersebut juga terjadi pada tahun 2021 yang terpantau melemah 16,04 persen dalam setahun dan membawa menempati posisi kedua dengan kinerja terburuk dalam indeks sektoral.

Sementara posisi pertama ditempati oleh IDX Sector Properties & Real Estate dengan kinerja yang turun sebanyak 19,11 persen di tahun 2021.

Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Abdul Azis Setyo Wibowo menyampaikan bahwa terdapat beberapa saham yang kemungkinan jadi pemberat kinerja indeks sektor barang konsumen primer tersebut karena mencatatkan kinerja kurang memuaskan.

Abdul mencontohkan, PT Unilever Indonesia Tbk. (UNVR) yang bisa menjadi pemberat kinerja indeks tersebut karena mencatatkan penurunan kinerja saham. Apalagi, UNVR memiliki bobot tertinggi pada sektor IDX Sectoral Consumer Non-Cyclical yaitu sebesar 14 persen.

Berdasarkan data Bloomberg, per Selasa (25/1/2022), saham UNVR terpantau turun 1,22 persen ytd dan telah turun 20,78 persen dalam enam bulan terakhir. Kapitalisasi pasar UNVR pun tercatat sebesar Rp154,89 triliun.

Terlepas dari pemberat itu, Abdul memperkirakan ada potensi indeks tersebut mencatatkan kinerja positif karena beberapa sentimen positif pendorongnya di tahun ini.

“Kami melihat IDX Sector Consumer Non-Cyclicals pada tahun ini masih ada peluang mencatatkan kinerja positif didorong pemulihan ekonomi dan membaiknya inflasi,” ungkap Abdul kepada Bisnis, Selasa (25/1/2022).

Selain itu, pada Desember lalu, pemerintah menyatakan bahwa pemberlakuan cukai plastik dan minuman berpemanis akan memperhatikan perkembangan kondisi ekonomi di tahun 2022 meski telah masuk ke dalam APBN 2022.

Jika terjadi penundaan di tahun ini, maka Abdul mengungkapkan hal tersebut bisa menjadi sentimen positif bagi emiten makanan dan minuman yang masuk dalam indeks sektor barang konsumen primer.

“Untuk emiten mamin memang akan menjadi sentimen positif [penundaan cukai plastik] karena beban dari perusahaan tidak jadi naik,” kata Abdul.

Namun Abdul mengaku hal tersebut perlu diwaspadai karena jika ekonomi telah pulih, maka kenaikan cukai bisa saja terjadi.

Berdasarkan sentimen tersebut, PT Kiwoom Sekuritas Indonesia merekomendasikan INDF, ICBP, AALI, dan LSIP karena secara valuasi saham, emiten-emiten tersebut masih murah.

Sebagai informasi, Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menilai bahwa adanya cukai plastik dan minuman berpemanis dalam RABPN menunjukkan kedua komponen itu memenuhi syarat untuk berlaku. Namun, tidak ada jawaban pasti darinya saat ditanya apakah cukai itu akan berlaku pada tahun depan.

"Ya nanti kita lihat, kan [cukai plastik dan minuman berpemanis] sudah ada di RAPBN, berarti dia memenuhi ketentuan bahwa dia harus dicantumkan di APBN. Teknisnya tentu nanti harus kita buatkan aturannya, dan detailing-nya supaya ada guidance-nya," ujar Suahasil kepada Bisnis, Rabu (22/12/2021).

Suahasil menyebut bahwa pemerintah terus mencermati dan mengkaji perkembangan kondisi ekonomi untuk menerapkan cukai plastik dan minuman berpemanis.

Rencana penerapan cukai bagi plastik dan minuman berpemanis telah bergulir cukup lama, setidaknya sejak 2019. Kala itu, Kementerian Keuangan menilai bahwa sampah plastik menjadi masalah besar karena mencemari laut, sedangkan minuman berpemanis meningkatkan risiko kesehatan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper