Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Sikap Hawkish The Fed Masih Guncang Pasar, Wall Street Melemah

Indeks S&P 500 ditutup melemah 0,41 persen ke 4.677,03 dan membukukan pelemahan 1,9 persen sepanjang pekan ini.
Aprianto Cahyo Nugroho
Aprianto Cahyo Nugroho - Bisnis.com 08 Januari 2022  |  05:51 WIB
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg
Pelaku pasar sedang memantau perdagangan di bursa New York Stock Exchange (NYSE), New York, AS, Senin (20/9/2021). - Bloomberg

Bisnis.com, JAKARTA – Bursa saham Amerika Serikat ditutup melemah pada perdagangan Jumat (7/1/2022) di tengah kekhawatiran bahwa Federal Reserve akan dipaksa untuk menaikkan suku buka lebih cepat dari perkiraan investor.

Berdasarkan data Bloomberg, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup melemah tipis 0,01 persen atau 4,81 poin ke level 36.231,66, sedangkan indeks S&P 500 ditutup melemah 0,41 persen ke 4.677,03 dan Nasdaq Composite merosot 0,96 persen ke 14.935,90.

Indeks S&P 500 mencatatkan awal tahun terburuk sejak 2016 dengan pelemahan 1,9 persen sepanjang pekan. Pelemahan hari ini didorong oleh saham-saham emiten jumbo seperti Tesla Inc., Nvidia Corp. dan Alphabet Inc.

Sikap hawkish dalam risalah pertemuan The Fed Desember yang dirilis pertengahan pekan lalu memicu aksi jual. Di sisi lain, data non-farm payroll (NFP) dan angka pengangguran yang variatif tidak banyak meredakan kekhawatiran terhadap potensi kenaikan suku bunga pada awal Maret.

Analis investasi global Commonwealth Financial Network Anu Gaggar mengatakan secara keseluruhan, data ekonomi terbaru memiliki pesan yang beragam.

“Kombinasi dari penurunan tingkat pengangguran di bawah tingkat ekuilibrium jangka panjang Fed dan percepatan pertumbuhan upah membuat pertemuan the Fed berpotensi menaikkan suku bunga pada pertemuan Maret mendatang,” tulis Gaggar seperti dilansir Bloomberg, Sabtu (8/1/2022).

Data NFP bulan Desember menunjukkan perusahaan membuka lebih sedikit lapangan kerja dari yang diharapkan, sementara tingkat upah naik lebih dari perkiraan dan pengangguran turun di bawah 4 persen.

Imbal hasil obligasi Treasury AS naik secara keseluruhan, dengan imbal hasil tenor 5 tahun naik naik ke level pra-pandemi, melampaui 1,50 persen. Sementara itu, imbal hasil tenor 2 tahun naik di atas 0,90 persen menuju lonjakan mingguan terbesar sejak Oktober 2019. Imbal hasil acuan 10 tahun melampaui level tertinggi 2021 ke 1,80 persen.

"Jika (imbal hasil Treasury) tenor 10 tahun menembus di atas 2 persensecara berkelanjutan, itu bagi saya merupakan indikasi bahwa investor benar-benar mulai khawatir tentang inflasi yang berkelanjutan," ungkap Brad McMillan, kepala investasi di Commonwealth Financial Network.

Sikap The Fed yang terang-terangan hawkish telah mengguncang pasar keuangan pada awal tahun baru, dengan investor menilai kembali bagaimana menilai aset di lingkungan kenaikan suku bunga.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

bursa as wall street
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top