Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pasar Khawatir Omicron, Rupiah Ditutup Amblas di Hadapan Dolar AS

Rupiah bersama mata uang Asia lain ikut loyo di hadapan dolar AS lantaran kekhawatiran terhadap menyebarnya virus corona varian Omicron.
Annisa Kurniasari Saumi
Annisa Kurniasari Saumi - Bisnis.com 02 Desember 2021  |  15:34 WIB
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani
Petugas menunjukkan mata uang dolar AS dan rupiah di Money Changer, Jakarta, Senin (19/4/2021). Bisnis - Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah ditutup melemah di hadapan dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (2/12/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda ditutup melemah 51 poin atau 0,36 persen ke level Rp14.397,5 per dolar AS.

Rupiah ditutup melemah bersama mata uang lain di kawasan Asia seperti yen Jepang yang turun 0,43 persen di hadapan dolar AS, dolar Singapura 0,12 persen, yen China 0,12 persen dan baht Thailand 0,39 persen.

Sementara itu, indeks dolar AS tercatat naik 0,07 persen ke level 96,097 hingga pukul 15.00 WIB.

Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengatakan, pasar diguncang oleh berita bahwa omicron bisa lebih menular daripada varian sebelumnya, yang mengindikasikan kembalinya lockdown yang dapat berdampak pada pemulihan ekonomi.

AS melaporkan kasus varian pertamanya pada Rabu (1/12/2021) waktu setempat. Selain itu, Australia, Inggris, Kanada, dan Jepang, juga melaporkan kasus, meskipun perbatasan diperketat.

Sementara itu, jumlah kasus omicron di Afrika Selatan, tempat ditemukannya varian baru ini empat pekan lalu, meningkat dua kali lipat dari Selasa hingga Rabu.

Terlepas dari ketidakpastian seputar omicron dan dampaknya, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell menegaskan kembali pendiriannya bahwa The Fed akan mempertimbangkan untuk mempercepat pengurangan aset ketika bertemu pada 14 hingga 15 Desember mendatang.

"Ini juga bisa berarti kenaikan suku bunga yang lebih cepat dari perkiraan," kata Ibrahim dalam risetnya, Kamis (2/12/2021).

Dari dalam negeri, pemerintah memproyeksikan inflasi 2021 akan mencapai 1,9 persen, jika dibandingkan dengan 2020 (year-on-year/yoy), melihat dari perkembangan inflasi November 2021 yang tercatat 1,75 persen (yoy).

Dengan demikian, inflasi masih berpotensi menguat secara bertahap, seiring dengan perkembangan positif mobilitas masyarakat saat ini akibat pelonggaran PPKM.

Adapun untuk perdagangan besok (3/12/2021), Ibrahim memperkirakan mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, tetapi, ditutup melemah di rentang Rp14.380-Rp14.440.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

kurs dolar as Rupiah
Editor : Farid Firdaus

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
To top