Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Obligasi Korporasi Masih Prospektif Tahun Depan, Ini Sebabnya

Hingga Oktober 2021, outstanding obligasi korporasi tercatat mencapai Rp422,84 triliun, atau terpaut tipis dengan pencapaian outstanding obligasi korporasi sepanjang 2020 yang mencapai Rp425,71 triliun.
Lorenzo Anugrah Mahardhika
Lorenzo Anugrah Mahardhika - Bisnis.com 01 Desember 2021  |  18:45 WIB
ILUSTRASI OBLIGASI. Bisnis - Himawan L Nugraha
ILUSTRASI OBLIGASI. Bisnis - Himawan L Nugraha

Bisnis.com, JAKARTA – Prospek emisi obligasi korporasi pada tahun depan masih positif seiring dengan outlook pertumbuhan ekonomi yang optimal. Meski demikian, investor perlu mencermati beberapa hal sebelum memutuskan masuk ke instrumen ini.

Data Otoritas Jasa Keuangan (OJK) per pekan kedua November 2021 menunjukkan bahwa hingga Oktober 2021, outstanding obligasi korporasi tercatat mencapai Rp422,84 triliun, atau terpaut tipis dengan pencapaian outstanding obligasi korporasi sepanjang 2020 yang mencapai Rp425,71 triliun.

Di sisi lain, dari sisi volume, sepanjang sepuluh bulan pertama 2021 volume surat utang perusahaan sebanyak Rp288,03 triliun. Jumlah ini terpaut jauh jika dibandingkan volume obligasi korporasi sepanjang 2020 yang mencapai Rp377,54 triliun.

Dari sisi frekuensi, hingga akhir Oktober 2021, obligasi korporasi memiliki frekuensi 27.604. Sementara, sepanjang 2020, frekuensi mencapai 37.708.

Terkait hal tersebut Associate Director Fixed Income Anugerah Sekuritas Ramdhan Ario Maruto menjelaskan, meski nilai outstanding obligasi korporasi hingga akhir 2021 tidak berbeda jauh dengan tahun kemarin, tren emisi surat utang korporasi mulai menunjukkan pemulihan.

Ia menjelaskan, perusahaan masih memandang obligasi korporasi sebagai salah satu instrumen yang tepat untuk mendanai ekspansi atau refinancing di tengah ketidakpastian pandemi virus corona.

Meski demikian, instrumen ini juga hanya digunakan oleh perusahaan dari sejumlah sektor yang mampu menanggung biaya penerbitan dan kupon. Sementara itu, perusahaan-perusahaan yang memiliki peringkat atau rekam jejak yang kurang baik dalam emisi obligasi lebih memilih menahan ekspansi atau mencari sumber pendanaan lainnya.

“Sepanjang tahun 2021 terlihat sektor finance masih dominan yang menerbitkan obligasi korporasi. Hal ini karena perusahaan-perusahaan di sektor lain seperti ritel, pariwisata, dan lainnya masih cukup terdampak ketidakpastian pandemi,” jelasnya saat dihubungi, Rabu (1/12/2021).

Ke depannya, prospek emisi obligasi korporasi masih cukup positif. Hal tersebut seiring dengan prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dipatok pada kisaran 5 persen akan semakin meningkatkan gairah perusahaan untuk berekspansi.

Hal tersebut akan meningkatkan kebutuhan perusahaan terhadap pendanaan. Salah satu sarana pendanaan ekspansi tersebut adalah melalui emisi surat utang.

Selain itu, tingkat likuiditas investor di pasar obligasi Indonesia sejauh ini masih cukup baik. Menurut Ramdhan, ketidakpastian yang terjadi karena pandemi virus corona membuat para investor cenderung berhati-hati untuk masuk ke pasar surat utang korporasi pada tahun ini.

“Tetapi, dengan prospek ekonomi dan industri yang akan berkembang pada tahun depan, para investor pasti akan mencari instrumen-instrumen investasi dengan return yang optimal, salah satunya melalui surat utang,” imbuhnya.

Adapun, Ramdhan menyarankan para investor yang hendak masuk ke pasar surat utang korporasi untuk mencermati rekam jejak penerbitan dan peringkat utang sebuah perusahaan.

Ia mengatakan, umumnya, minat investor terhadap obligasi perusahaan dengan rating yang biasa saja atau track record yang kurang baik akan rendah.

Sebaliknya, rekam jejak yang baik dan peringkat utang yang stabil akan meningkatkan selera investor dan penyerapan surat utang tersebut. Selain itu, cost of fund yang dikeluarkan perusahaan juga dapat ditekan.

Ramdhan melanjutkan, peringkat utang juga dapat menentukan potensi risiko yang akan ditanggung perusahaan dan investor. Hal ini amat penting mengingat masih adanya ketidakpastian ekonomi akibat pandemi virus corona yang masih berlangsung hingga saat ini.

“Sebaiknya hindari perusahaan-perusahaan atau sektor industri yang masih berisiko dan terdampak ketidakpastian ekonomi,” pungkasnya.

Senada, Head of Research & Market Information Department Penilai Harga Efek Indonesia (PHEI) Roby Rushandie menyebutkan prospek obligasi korporasi masih menarik. Ia menjelaskan, pasokan surat utang korporasi berpotensi meningkat di tahun depan

Menurutnya, hal ini didorong oleh faktor tingginya obligasi jatuh tempo di 2022. Selain itu, peluang ekspansi seiring dengan prospek pemulihan ekonomi juga akan menggairahkan emiten untuk menggalang dana melalui obligasi.

"Dari sisi investor, obligasi korporasi menawarkan imbal hasil yang lebih atraktif dibandingkan dengan SBN dan deposito," katanya.

Meski demikian, ia mengingatkan ketidakpastian akibat pandemi virus corona juga membayangi prospek pasar surat utang korporasi. Roby menuturkan, kemunculan varian baru omnicron akan berimbas pada ketidakpastian pasar yang semakin tinggi sehingga kualitas kredit korporasi berisiko mengalami penurunan.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Obligasi obligasi korporasi
Editor : Aprianto Cahyo Nugroho

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top