Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

ADRO Berpotensi Pecah Rekor Ebitda Tertinggi pada 2021

Adaro Energy merevisi target Ebitda operasional ADRO sampai akhir 2021 di kisaran US$1,75 miliar-US$1,9 miliar, tertinggi dalam 10 tahun terakhir.
Mutiara Nabila
Mutiara Nabila - Bisnis.com 01 Desember 2021  |  13:45 WIB
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com
Kegiatan pertambangan batu bara di wilayah operasional PT Adaro Energy Tbk. - adaro.com

Bisnis.com, JAKARTA - Emiten pertambangan PT Adaro Energy Tbk. (ADRO) berpotensi memecahkan rekor Ebitda operasional tertinggi secara tahunan pada 2021.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer ADRO Garibaldi Thohir menyampaikan mencatat peningkatan profitabilitas Adaro per September 2021 berkat kondisi pasar batu bara yang lebih baik.

ADRO juga mempertahankan operasi yang kuat dan efisien serta berfokus pada keunggulan operasional. Ebitda operasional ADRO mencapai US$1,15 miliar per September 2021, naik 70 persen yoy dari sebelumnya US$676 juta.

Garibaldi pun merevisi target Ebitda operasional ADRO sampai akhir 2021 di kisaran US$1,75 miliar-US$1,9 miliar. Sebelumnya, ADRO menargetkan Ebitda operasional pada 2021 di rentang US$750 juta-US$900 juta.

"Peningkatan harga jual batu bara menopang kinerja Adaro. Dengan mempertimbangkan perkembangan terakhir fundamental pasar batu bara, kami memutuskan untuk melakukan penyesuaian pada target profitabilitas. Karenanya, panduan Ebitda operasional direvisi menjadi AS$1,75 miliar – AS$1,90 miliar untuk tahun 2021," paparnya dalam keterangan resmi, Selasa (31/11/2021).

Mengutip data perusahaan, setidaknya target Ebitda operasional tersebut mencapai level tertinggi dalam 10 tahun terakhir. ADRO pernah mencatatkan Ebitda operasional US$1,5 miliar pada 2011 dan US$1,4 miliar pada 2018.

Data Kinerja Ebitda Operasional ADRO (US$ miliar)

20112012201320142015201620172018201920202021*
1,51,10,80,90,70,91,31,41,20,881,75-1,9

*proyeksi

Sementara itu, ADRO per September 2021 membukukan pendapatan usaha US$2,57 miliar atau sekitar Rp36,7 triliun (estimasi kurs Rp14.285,7 per dolar AS). Pendapatan ADRO naik 31 persen year on year (yoy) dari sebelumnya US$1,95 miliar per September 2020.

Garibaldi mengatakan peningkatan pendapatan Adaro Energy terutama berasal dari peningkatan rata-rata harga jual batu bara (ASP) sebesar 42 persen yoy.

Dari sisi operasional, ADRO memproduksi hampir 40 juta ton batu bara, turun 4 persen yoy, sedangkan penjualan 38,86 juta ton, turun 5 persen yoy.

Sementara itu, Adaro mencatatkan laba bersih US$420,9 juta per September 2021 atau setara Rp6,01 triliun. Laba bersih tersebut naik 284,81 persen yoy dari sebelumnya US$109,38 juta.

Adapun, laba inti naik 98 persen menjadi 644 juta dari sebelumnya US$326 juta per September 2020. Laba inti dihitung tanpa memasukkan komponen non operasional setelah pajak, yang di antaranya meliputi rugi derivatif instrumen keuangan, rugi penurunan nilai pinjaman kepada pihak terafiliasi, rugi penurunan nilai aset tetap, dan rugi penurunan nilai investasi pada perusahaan patungan yang terkait dengan investasi pada aset batu bara CV (nilai kalor) rendah di Kalimantan Timur

Total aset ADRO per September 2021 mencapai US$7,12 miliar, naik dari akhir 2020 senilai US$6,38 miliar. Aset terdiri atas ekuitas US$4,32 miliar dan liabilitas US$2,79 miliar.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara Kinerja Emiten adaro adaro energy
Editor : Hafiyyan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!

BisnisRegional

To top