Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rupiah dan Mata Uang Asia Kompak Melemah Lawan Dolar AS

Dolar AS menguat seiring optimisnya data inflasi konsumen AS yang dapat memicu spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA - Nilai tukar rupiah dibuka melemah di hadapan dolar AS pada hari ini, Kamis (11/11/2021).

Berdasarkan data Bloomberg, mata uang Garuda dibuka turun 46,5 poin atau 0,33 persen menjadi Rp14.300 per dolar AS pada pukul 09.01 WIB. Sementara indeks dolar AS meningkat 0,05 persen ke level 94,90.

Rupiah dibuka melemah bersama mata uang Asia lainnya di hadapan dolar AS yakni yen Jepang yang terkoreksi 0,13 persen, dolar Singapura 0,01 persen, dan won Korea Selatan 0,35 persen.

Riset Monex Investindo Futures (MIFX) menyebutkan, dolar AS menguat seiring optimisnya data inflasi konsumen AS yang dapat memicu spekulasi bahwa Federal Reserve mungkin akan menaikan suku bunga lebih cepat dari perkiraan.

"Dolar AS menguat pasca perilisan data consumer price index (CPI) AS yang optimis," tulis tim riset MIFX, Kamis (11/11/2021).

Sebagai informasi, indeks harga konsumen atau CPI AS naik 6,2 persen year-on-year (yoy) dari Oktober 2020.

Dibandingkan bulan September 2021, laju inflasi meningkat 0,9 persen, kenaikan tertinggi dalam empat bulan terakhir. Kedua data CPI tersebut melampaui survei Bloomberg terhadap para ekonom.

Sementara itu, mengutip Antara, dolar AS bertengger di level tertinggi tahun ini terhadap sterling dan euro di perdagangan Asia pada Kamis pagi, sementara yen Jepang merasakan pedih dari penurunan tertajamnya dalam sebulan, setelah data inflasi AS terpanas dalam satu generasi memicu spekulasi kenaikan suku bunga.

Mata uang pasar negara berkembang (EM) menderita dari kenaikan luas dolar, dengan indeks mata uang EM MSCI membuat penurunan paling tajam dalam dua bulan karena imbal hasil obligasi pemerintah AS melonjak.

Kepala Strategi Valas National Australia Bank Ray Attrill menjelaskan pergerakan suku bunga, terutama dalam jangka pendek, menunjukkan para pedagang percaya Federal Reserve (Fed) akan turun tangan untuk menaikkan suku bunga jika harga terus berjalan lebih tinggi.

"Pasar masih memberikan tingkat kredibilitas pada The Fed, bahwa mereka tidak akan membiarkan inflasi yang sangat tinggi bertahan tanpa batas waktu," katanya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Annisa Saumi
Editor : Farid Firdaus
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper